Maulid Nabi di Era Digital: Sudahkah Muhammad SAW Hadir dalam Parenting Kita?

Oleh: Ahmad Farid Utsman
Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah UNUGIRI

Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, suasana keagamaan terasa berbeda. Shalawat terdengar di masjid, musala, sekolah, pesantren, hingga rumah-rumah. Anak-anak mengenakan pakaian terbaiknya. Ada pembacaan Barzanji, Diba’, pengajian, berbagi makanan, dan berbagai tradisi yang mengekspresikan kegembiraan menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semuanya baik dan indah. Tetapi sebagai orang tua, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita bawa pulang setelah peringatan Maulid selesai: seberapa jauh Nabi Muhammad SAW benar-benar hadir dalam cara kita mendidik anak?

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika anak-anak kita tumbuh pada zaman yang sangat berbeda. Mereka lahir ketika layar sudah berada di mana-mana. Belum lancar membaca, mereka sudah mampu menggeser layar. Belum memahami angka, mereka sudah mengenali ikon YouTube. Bahkan sebelum mampu membedakan informasi baik dan buruk, algoritma sudah sibuk merekomendasikan apa yang harus mereka tonton berikutnya. Kita tentu tidak mungkin membawa anak kembali pada kehidupan 1.400 tahun yang lalu. Kita juga tidak perlu memusuhi teknologi. Persoalannya bukan bagaimana menjauhkan anak sepenuhnya dari dunia digital, melainkan nilai apa yang kita bekalkan ketika mereka memasuki dunia tersebut.

Di sinilah Maulid Nabi menemukan relevansinya dengan parenting masa kini. Al-Qur’an menempatkan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik. Menariknya, keteladanan merupakan metode pendidikan yang sangat sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Anak adalah pembelajar melalui imitasi. Mereka melihat, merekam, lalu meniru. Bagi anak kecil, satu perilaku yang dicontohkan secara konsisten terkadang jauh lebih efektif dibanding seribu nasihat yang diucapkan.

Masalahnya, kita kadang sangat bersemangat mengenalkan sosok Nabi melalui cerita, tetapi lupa menghadirkan akhlak Nabi melalui perilaku kita sendiri. Kita meminta anak berkata lembut, tetapi ia mendengar orang tuanya mudah membentak. Kita mengajarkan kejujuran, tetapi sesekali anak justru melihat orang dewasa berbohong. Kita meminta anak berhenti bermain gawai, sementara sepanjang makan malam mata kita sendiri tidak pernah lepas dari telepon genggam. Kita meminta anak mendengarkan ketika orang lain berbicara, sementara saat anak bercerita tangan kita masih sibuk scrolling. Tanpa disadari, anak menerima dua kurikulum sekaligus: kurikulum yang kita ucapkan dan kurikulum yang kita contohkan. Dan sering kali kurikulum kedua jauh lebih kuat.

Maka memperingati Maulid Nabi di era digital barangkali dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: menghadirkan akhlak Rasulullah di dalam rumah. Mulailah dari rahmah, kasih sayang. Ketika anak melakukan kesalahan, jangan buru-buru mempermalukannya. Dengarkan, arahkan, kemudian berikan batas secara proporsional. Anak perlu memahami bahwa kesalahan memiliki konsekuensi, tetapi kesalahan tidak membuat dirinya kehilangan kasih sayang orang tua. Pendidikan Islam bukan hanya tentang membuat anak patuh, tetapi membantu anak memahami mengapa sebuah kebaikan perlu dilakukan.

Kemudian hadirkan shiddiq, kejujuran. Jangan hanya meminta anak berkata jujur. Biarkan ia melihat orang tuanya berani berkata, “Ayah tadi salah,” atau “Ibu minta maaf, tadi Ibu terlalu keras.” Bagi anak, melihat ayah atau ibunya berani meminta maaf merupakan pelajaran akhlak yang sangat berharga. Begitu pula dengan amanah. Anak dapat dilatih melalui tanggung jawab sederhana sesuai usianya, seperti mengembalikan mainan, meletakkan sepatu pada tempatnya, menjaga barang miliknya, atau membantu pekerjaan ringan di rumah. Karakter besar sering kali justru tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang.

Nilai tabligh juga semakin relevan di tengah kehidupan digital. Kelak anak-anak akan memiliki kemampuan memotret, membuat video, menulis komentar, dan menyebarkan informasi hanya dengan beberapa sentuhan jari. Maka sejak dini mereka perlu memperoleh fondasi bahwa tidak semua yang bisa dikatakan harus dikatakan, tidak semua yang diketahui harus disebarkan, dan tidak semua yang menarik perhatian layak dibagikan. Sedangkan fathanah dapat diterjemahkan sebagai kemampuan menjadi pengguna teknologi yang cerdas. Anak tidak cukup hanya mahir mengoperasikan perangkat digital. Ia perlu perlahan belajar memilih tontonan, bertanya tentang informasi, membedakan yang baik dan buruk, serta menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.

Menariknya, empat sifat kenabian “shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah”, ternyata tidak pernah kehilangan relevansi. Bahkan di tengah dunia digital, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi bagi anak untuk tumbuh menjadi warga digital yang berakhlak. Teknologinya boleh berubah, tetapi kompas moralnya tidak harus ikut berubah.

Ada persoalan lain yang menurut saya perlu direnungkan. Orang tua hari ini sering cemas karena anak terlalu dekat dengan gawai. Kita sibuk mencari aplikasi parental control, mengatur screen time, memblokir konten, dan memasang berbagai pembatas. Semua itu dapat diperlukan. Namun ada satu parental control yang tidak tersedia di App Store maupun Play Store, yaitu kedekatan orang tua dengan anaknya. Teknologi dapat membatasi aplikasi apa yang dibuka anak, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan percakapan sebelum tidur. Tidak dapat menggantikan pelukan ketika anak kecewa. Tidak dapat menggantikan cerita ayah, permainan bersama ibu, atau pengalaman melihat orang tuanya shalat, berdoa, bersedekah, meminta maaf, menolong orang lain, dan memperlakukan sesama dengan santun.

Barangkali problem parenting digital kita hari ini bukan hanya karena anak memiliki terlalu banyak screen time, tetapi terkadang karena mereka mendapatkan terlalu sedikit parent time. Anak memang membutuhkan aturan penggunaan teknologi, tetapi mereka jauh lebih membutuhkan kehadiran orang tua. Maulid Nabi mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kata-kata. Kehadiran, interaksi, kasih sayang, komunikasi, pembiasaan, dan keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Karena itu, mengenalkan Rasulullah kepada anak juga jangan berhenti pada hafalan nama, tanggal kelahiran, atau kisah-kisah sejarahnya. Hadirkan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa kehidupan anak. Ketika berbagi makanan, ceritakan tentang indahnya berbagi. Ketika bertemu hewan, ajarkan kasih sayang terhadap makhluk Allah. Ketika anak marah, dampingi ia belajar mengelola emosinya. Ketika memperoleh makanan, biasakan mengucapkan alhamdulillah. Ketika melakukan kesalahan, ajarkan meminta maaf. Ketika mempunyai sesuatu, ajarkan berbagi. Dengan cara demikian, anak tidak hanya tahu tentang Nabi Muhammad SAW, tetapi perlahan belajar mencintai apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Di sinilah keluarga mempunyai posisi yang tidak tergantikan. Sekolah dapat mengajarkan sirah Nabi. Guru dapat mengajarkan shalawat. Masjid dapat menyelenggarakan peringatan Maulid. Bahkan YouTube dapat menyediakan ratusan video dan animasi tentang kisah Rasulullah. Namun anak tetap membutuhkan rumah sebagai tempat nilai-nilai itu menjadi nyata. Tidak ada konten digital secanggih apa pun yang dapat menggantikan pengalaman seorang anak menyaksikan sendiri bagaimana ayah dan ibunya menjalankan nilai yang selama ini diajarkan kepadanya.

Maka Maulid Nabi di era digital tidak selalu harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang rumit bagi keluarga. Kita dapat memulainya dengan satu waktu tanpa gawai untuk bermain bersama anak, membacakan satu kisah keteladanan Rasulullah sebelum tidur, mengajak anak menyiapkan makanan untuk tetangga, membiasakan shalawat bersama, atau sesederhana meletakkan telepon genggam ketika anak sedang bercerita. Kelihatannya kecil, tetapi pendidikan anak usia dini memang dibangun melalui hal-hal kecil yang baik dan dilakukan secara konsisten.

Pada akhirnya, tantangan terbesar kita bukan bagaimana membuat anak mampu mengenal teknologi. Tanpa banyak diajari pun, mereka mungkin akan jauh lebih cepat menguasainya dibanding kita. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa ketika teknologi semakin pintar, anak-anak kita tidak kehilangan akhlak yang membuatnya tetap menjadi manusia. Di sinilah Maulid Nabi Muhammad SAW menemukan aktualitasnya. Maulid tidak berhenti pada mengenang manusia agung yang lahir lebih dari empat belas abad silam, tetapi menjadi momentum menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian untuk menjawab persoalan pengasuhan hari ini.

Maka ketika pembacaan shalawat selesai, makanan telah dibagikan, dan panggung peringatan Maulid mulai dibongkar, bawalah Maulid pulang ke rumah. Hadirkan rahmah dalam pengasuhan, shiddiq dalam perkataan, amanah dalam pembiasaan, tabligh dalam komunikasi, dan fathanah ketika mendampingi anak menghadapi teknologi. Sebab di tengah dunia yang terus berubah, anak-anak tetap membutuhkan sesuatu yang tidak pernah out of date: keteladanan.

Barangkali itulah hikmah Maulid yang paling sederhana sekaligus paling substantif bagi orang tua di era digital. Jangan hanya membuat anak mengenal siapa Nabi Muhammad SAW. Bantulah mereka merasakan indahnya akhlak Nabi melalui cara kita mengasuhnya setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *