
Malam 17 Agustus selalu menjadi salah satu momen yang dinantikan masyarakat Indonesia. Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat di desa turut mengisinya dengan tradisi rutinan malam 17 Agustus berupa doa bersama untuk negeri.
Pada malam menjelang peringatan kemerdekaan, warga desa berbondong-bondong berkumpul dengan membawa berkat, istilah dalam bahasa Jawa untuk makanan yang dibawa dan dibagikan sebagai bagian dari tradisi kebersamaan, serta tumpeng. Berbagai hidangan tersebut kemudian dikumpulkan untuk dinikmati bersama setelah pelaksanaan doa.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Warga berkumpul untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Indonesia senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, kedamaian, serta dijauhkan dari berbagai hal buruk yang dapat mengancam kehidupan masyarakat dan keutuhan negeri.
Sebelum acara dimulai, terdengar celetukan sederhana dari seorang mbah yang justru menyimpan makna mendalam.
“Ayo podo ngumpul, wong karek dungo ae kok, ora dikon perang.”
Artinya kurang lebih, “Ayo berkumpul, kita hanya diminta berdoa, bukan disuruh berperang.”
Kalimat sederhana tersebut sontak membuat saya terdiam dan berpikir. Benarkah kita saat ini sudah tidak berperang? Benarkah kita sudah sepenuhnya merasakan kemerdekaan?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika melihat berbagai pemberitaan akhir-akhir ini yang tidak jarang membuat dada terasa sesak. Perang mungkin tidak lagi selalu hadir dalam bentuk pertempuran secara langsung. Namun, tantangan bagi sebuah bangsa dapat hadir dalam berbagai bentuk: perpecahan, konflik, ketidakadilan, keresahan sosial, hingga berbagai persoalan yang mengusik rasa aman dan kesejahteraan masyarakat.
Maka, doa bersama pada malam 17 Agustus memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjadi bentuk rasa syukur atas kemerdekaan sekaligus ikhtiar masyarakat untuk terus memohon perlindungan dan keberkahan bagi negeri.
Melalui kegiatan sederhana yang berlangsung di tengah masyarakat ini, warga tidak hanya mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi juga menitipkan harapan untuk masa depan Indonesia.
Semoga setiap doa yang dipanjatkan pada malam 17 Agustus menjadi bagian dari ikhtiar bersama. Semoga Indonesia tercinta senantiasa dijauhkan dari segala keburukan, diberikan kedamaian, masyarakatnya hidup rukun, dan negeri ini terus tumbuh menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.
Karena kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga kedamaian, persatuan, dan harapan bagi negeri yang kita cintai.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Oleh: Syafira
