AMI 2026 PIAUD UNUGIRI Catat 80,6 Persen Indikator Tercapai dan Melampaui Target

BOJONEGORO – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) mencatat hasil positif dalam Audit Mutu Internal (AMI) Tahun 2026. Dari 139 indikator yang diaudit, sebanyak 112 indikator atau 80,6 persen berada pada kategori tercapai dan melampaui target.

Audit Mutu Internal dilaksanakan oleh Tim Auditor Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UNUGIRI, Ririn Fauziyah dan Rohmad Apriyanto, pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertempat di Ruang Microteaching Fakultas Tarbiyah UNUGIRI.

Pelaksanaan AMI menjadi bagian dari siklus penjaminan mutu internal untuk melihat kesesuaian antara target, implementasi program, bukti kinerja, serta capaian indikator yang telah ditetapkan. Audit juga menjadi ruang evaluasi bagi program studi untuk mengidentifikasi aspek yang sudah kuat sekaligus area yang masih membutuhkan tindak lanjut.

Berdasarkan hasil audit terhadap 139 indikator, sebanyak 73 indikator atau 52,5 persen masuk kategori Melampaui, 39 indikator atau 28,1 persen Tercapai, sementara 27 indikator atau 19,4 persen berada pada kategori Tidak Tercapai.

Dengan demikian, apabila kategori Melampaui dan Tercapai digabungkan, terdapat 112 indikator atau sekitar 80,6 persen yang telah memenuhi bahkan melampaui target mutu.

Hasil tersebut kemudian diperdalam melalui rekapitulasi capaian Key Performance Indicator (KPI). Dari pemetaan yang dilakukan, terdapat 28 indikator KPI yang masih belum tercapai.

Menariknya, hasil pemetaan menunjukkan bahwa faktor pembiayaan perlu dibaca secara lebih proporsional. Dari 28 KPI yang belum tercapai, sebanyak 9 indikator atau sekitar 32 persen merupakan indikator yang mendapatkan pembiayaan melalui Rencana Kegiatan dan Anggaran Tahunan (RKAT).

Sementara itu, sebanyak 19 indikator atau sekitar 68 persen merupakan indikator yang tidak dibiayai melalui RKAT. Pemetaan ini menjadi dasar evaluasi untuk membedakan indikator yang dapat diakselerasi melalui dukungan pembiayaan dan indikator yang memerlukan strategi nonanggaran, kolaborasi, jejaring, maupun inovasi program.

Bagi Prodi PIAUD UNUGIRI, hasil AMI tidak hanya dipandang sebagai angka capaian, melainkan menjadi instrumen untuk membaca efektivitas pengelolaan program studi secara lebih objektif. Capaian 80,6 persen indikator yang berada pada posisi tercapai dan melampaui menjadi modal positif, namun indikator yang belum tercapai tetap menjadi ruang evaluasi yang harus ditindaklanjuti.

Ketua Program Studi PIAUD UNUGIRI, Ahmad Farid Utsman, menilai AMI mempunyai fungsi strategis untuk menjaga agar budaya mutu tidak berhenti pada pemenuhan dokumen.

“AMI bukan sekadar melihat berapa indikator yang tercapai atau tidak tercapai. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana data hasil audit kita gunakan untuk membaca posisi Prodi secara objektif, menentukan prioritas, kemudian melakukan improvement secara terukur,” ungkap Ahmad Farid.

Menurutnya, hasil pemetaan terhadap 28 KPI yang belum tercapai juga memberikan informasi penting bahwa tidak seluruh indikator memiliki karakter intervensi yang sama.

“Data menunjukkan 32 persen KPI yang belum tercapai merupakan indikator yang mendapatkan dukungan RKAT, sementara 68 persen lainnya tidak dibiayai RKAT. Artinya, penyelesaiannya tidak selalu harus diterjemahkan dengan menambah anggaran. Ada indikator yang harus kita jawab melalui inovasi, kolaborasi, jejaring, optimalisasi SDM, dan efektivitas program,” jelasnya.

Ia menambahkan, indikator yang telah melampaui target juga tidak boleh membuat program studi berhenti melakukan perbaikan. Justru capaian tersebut harus dikonsolidasikan agar dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan menjadi praktik baik.

Bagi PIAUD UNUGIRI, hasil Audit Mutu Internal juga menjadi dasar penting dalam menyusun program kerja berikutnya. Perencanaan program diharapkan tidak semata berbasis rutinitas tahunan, tetapi semakin diarahkan pada program yang mampu menjawab beberapa indikator kinerja sekaligus, sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efektif dan berdampak.

Sementara itu, keberadaan auditor dari LPM UNUGIRI memberikan perspektif eksternal di tingkat internal universitas untuk memastikan bahwa pelaksanaan program, dokumen pendukung, serta capaian kinerja Prodi dapat dibaca secara objektif berdasarkan standar mutu yang berlaku.

Melalui AMI 2026, Prodi PIAUD UNUGIRI menegaskan komitmennya untuk menjadikan penjaminan mutu sebagai proses yang berkelanjutan. Capaian yang baik akan dipertahankan, indikator yang belum optimal akan diperbaiki, sementara berbagai peluang baru akan terus dikembangkan.

Bagi PIAUD UNUGIRI, mutu bukan sekadar tentang mendapatkan angka tinggi dalam audit, tetapi tentang kemampuan menjadikan hasil evaluasi sebagai energi untuk terus berbenah, berinovasi, dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *