
Oleh: Ahmad Farid Utsman
Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah UNUGIRI
Ada mahasiswa yang ketika ditanya apa targetnya selama kuliah menjawab sederhana, “Yang penting lulus.” Tidak salah. Lulus memang salah satu tujuan kuliah. Tetapi jika empat tahun berada di perguruan tinggi hanya menghasilkan selembar ijazah, rasanya terlalu mahal waktu yang telah dihabiskan. Delapan semester, puluhan mata kuliah, ratusan pertemuan, berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa dari berbagai latar belakang, serta begitu banyak kesempatan mengikuti organisasi, penelitian, pengabdian, kompetisi, seminar, magang, pertukaran mahasiswa hingga forum nasional dan internasional. Jika semuanya hanya berakhir dengan kalimat, “Alhamdulillah, akhirnya lulus juga”, jangan-jangan ada sesuatu yang terlewat.eè
Bagi mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), masa kuliah mestinya menjadi golden moment. Istilah ini sengaja saya pinjam dari dunia pendidikan anak usia dini yang sangat akrab dengan konsep golden age. Kita memahami bahwa masa emas merupakan periode penting ketika stimulasi, pengalaman, lingkungan, dan interaksi memberi kontribusi besar terhadap perkembangan anak. Mahasiswa tentu bukan lagi anak usia dini, tetapi setiap fase kehidupan memiliki masa emasnya sendiri. Dan menjadi mahasiswa adalah salah satunya.
Pada fase inilah seseorang memiliki kemewahan untuk belajar, mencoba, salah, memperbaiki diri, bertemu banyak orang, menguji gagasan, membangun jejaring, sekaligus menemukan identitas profesionalnya. Kesempatan semacam ini tidak selamanya tersedia. Karena itu, golden moment jangan sampai berubah menjadi lose moment, yakni masa ketika kesempatan sebenarnya terbuka lebar, tetapi kita membiarkannya berlalu begitu saja.
Sayangnya, masih ada mahasiswa yang memaknai kuliah sebatas rutinitas. Datang ke kampus ketika ada jadwal, masuk kelas, presensi, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas seperlunya, kemudian pulang. Besok diulangi lagi. Semester berganti semester. Tahu-tahu sudah semester tujuh. Pada saat itulah muncul pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi bisa terasa menakutkan: “Setelah lulus, saya mau jadi apa?” Pertanyaan tersebut tidak salah. Yang menjadi masalah adalah mengapa pertanyaan sepenting itu baru diajukan menjelang wisuda.
Dalam imajinasi kebudayaan Jawa, kita mengenal Kawah Chandradimuka sebagai ruang penggemblengan yang melahirkan sosok dengan kekuatan dan kemampuan luar biasa. Saya kira kampus juga seharusnya dimaknai demikian. Kampus bukan ruang tunggu sebelum seseorang memasuki dunia kerja. Kampus adalah ruang penggemblengan. Mahasiswa datang membawa potensi, kemudian ditempa melalui ilmu pengetahuan, pengalaman, tugas, organisasi, kompetisi, penelitian, pengabdian, pertemanan, kegagalan, bahkan konflik dan perbedaan pendapat.
Karena itu, jangan terlalu takut menghadapi kesulitan selama kuliah. Ketika mendapatkan tugas, kerjakan dengan serius. Ketika diminta presentasi, maju. Ada kompetisi, coba. Ada organisasi, belajar mengambil peran. Ada dosen mengajak penelitian, ikut. Ada kegiatan pengabdian, bergabung. Ada konferensi, kirim tulisan. Ada kesempatan menjadi panitia, ambil tanggung jawab. Ada program nasional atau internasional, beranikan diri mendaftar. Kalaupun gagal, evaluasi lalu coba lagi. Sebab Kawah Candradimuka memang bukan tempat untuk bersantai.
Mahasiswa PIAUD juga harus berani keluar dari stereotip bahwa kuliah pendidikan anak usia dini hanya berkutat pada menyanyi, menggambar, menari, bermain, dan tepuk-tepuk. Tidak perlu marah dengan stereotip semacam itu. Jawab saja dengan kualitas. Mahasiswa PIAUD hari ini dituntut memahami perkembangan anak, psikologi, kurikulum, asesmen, media pembelajaran, parenting, pendidikan inklusif, perlindungan anak, teknologi pendidikan, penelitian hingga pengelolaan lembaga. Pada saat bersamaan, mereka juga membutuhkan digital literacy, public speaking, leadership, critical thinking, creativity, collaboration, entrepreneurship, serta kemampuan membangun personal branding.
Mampu bernyanyi tetap penting. Mampu mendongeng sangat bagus. Membuat media pembelajaran juga menjadi kompetensi yang relevan. Tetapi bayangkan apabila kemampuan tersebut dipadukan dengan literasi teknologi, kemampuan riset, komunikasi publik, kewirausahaan, bahasa asing, serta jejaring nasional dan internasional. Level permainannya tentu menjadi berbeda.
Karena itulah mahasiswa jangan menunggu wisuda untuk mulai membuat CV. Kesalahan yang kerap terjadi adalah baru memikirkan portofolio ketika hendak melamar pekerjaan. Semester delapan membuka laptop, mencari template CV, kemudian kebingungan mengisi bagian pengalaman. Organisasi kosong. Prestasi kosong. Publikasi kosong. Sertifikasi kosong. Pengalaman proyek kosong. Karya juga kosong. Akhirnya bagian paling panjang hanya “Riwayat Pendidikan”.
Padahal CV yang baik tidak dibuat dalam satu malam. Ia merupakan akumulasi proses selama bertahun-tahun. Setiap organisasi yang diikuti, kompetisi yang dicoba, tulisan yang diterbitkan, sertifikasi kompetensi yang diperoleh, proyek sosial yang dikerjakan, karya yang mendapatkan HKI, penelitian yang dilakukan, hingga pengalaman mengajar adalah batu bata yang disusun sedikit demi sedikit. Ketika wisuda tiba, mahasiswa mestinya tinggal melihat bangunan yang telah disusunnya selama masa studi.
Kita juga mengenal istilah bercanda “mahasiswa kupu-kupu”: kuliah-pulang, kuliah-pulang. Sesekali menjadi kupu-kupu tentu tidak masalah. Tetapi empat tahun hanya menjadi kupu-kupu rasanya terlalu lama. Ada banyak pembelajaran yang justru tidak tersedia secara eksplisit dalam buku. Organisasi mengajarkan bagaimana memimpin orang, menghadapi konflik, mengelola kegiatan, bernegosiasi, mengatur anggaran, dan menyelesaikan masalah. Kompetisi melatih mental. Penelitian mengajarkan ketelitian. Pengabdian menumbuhkan kepekaan sosial. Magang mempertemukan teori dengan kenyataan. Kewirausahaan mengajarkan keberanian membaca peluang. Sedangkan jejaring mengajarkan satu kenyataan penting bahwa masa depan sering kali dibangun bersama orang lain.
IPK tentu penting. Prestasi akademik tetap harus diperjuangkan. Tetapi dunia setelah kampus tidak hanya bertanya, “Berapa IPK-mu?” Dunia juga akan bertanya, “Apa yang bisa kamu kerjakan?” Di sinilah mahasiswa PIAUD perlu mengubah golden moment selama kuliah menjadi apa yang saya sebut sebagai Golden Portfolio.
Sebelum lulus, usahakan memiliki jejak karya nyata. Bisa berupa buku cerita anak, media pembelajaran, HKI, artikel ilmiah, konten edukasi, prestasi kompetisi, pengalaman organisasi, sertifikat kompetensi, pengalaman mengelola kegiatan anak, program pemberdayaan masyarakat, usaha rintisan bidang pendidikan, atau pengalaman akademik pada level nasional dan internasional. Tidak harus memiliki semuanya. Tetapi setidaknya ada sesuatu yang membuat seorang mahasiswa dengan percaya diri mampu berkata, “Inilah jejak proses saya selama kuliah.”
Dalam perspektif Pendidikan Islam, menuntut ilmu bukan sekadar proses memperoleh gelar. Ilmu adalah amanah. Kesempatan adalah amanah. Waktu juga amanah. Karena itu, kerugian mahasiswa bukan hanya ketika mendapatkan nilai rendah. Ada kerugian yang mungkin jauh lebih besar, yaitu memiliki kesempatan tetapi menyia-nyiakannya.
Hari ini mungkin ada seminar yang dianggap tidak penting. Ada ajakan dosen untuk menulis yang diabaikan. Ada kompetisi yang tidak diikuti karena takut kalah. Ada organisasi yang dijauhi karena dianggap merepotkan. Ada kesempatan belajar bahasa asing yang terus ditunda. Ada program internasional yang tidak dicoba karena merasa tidak percaya diri. Ada peluang membangun jejaring yang dilewatkan hanya karena malu menyapa. Semuanya terlihat kecil saat ini. Namun, masa depan sering kali merupakan akumulasi dari kesempatan-kesempatan kecil yang dahulu kita ambil atau justru kita lewatkan.
Empat tahun terasa sangat panjang ketika seseorang baru duduk di semester pertama. Tetapi tanyakan kepada mahasiswa semester akhir. Mungkin jawabannya hampir sama: “Ternyata cepat.” Karena itu, jangan hanya menghitung berapa semester lagi menuju wisuda. Sesekali berhentilah dan bertanya kepada diri sendiri: berapa karya yang sudah saya hasilkan? Kompetensi apa yang bertambah? Pengalaman apa yang sudah saya coba? Jejaring apa yang sudah saya bangun? Dan yang paling penting, seberapa jauh diri saya hari ini berbeda dibanding ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus?
Jika jawabannya belum banyak, tidak perlu berkecil hati. Selama status mahasiswa masih melekat, kesempatan itu belum sepenuhnya tertutup. Mulailah. Jadikan ruang kelas sebagai tempat mengasah intelektual, organisasi sebagai laboratorium kepemimpinan, kompetisi sebagai arena menguji kemampuan, penelitian sebagai latihan berpikir, pengabdian sebagai sekolah kehidupan, teknologi sebagai alat memperluas karya, dan kampus sebagai Kawah Chandradimuka untuk menempa diri.
Sebab menjadi mahasiswa adalah kesempatan yang memiliki tanggal kedaluwarsa. Suatu hari status itu akan berakhir. Ketika hari wisuda tiba, toga dikenakan, orang tua tersenyum, foto keluarga diambil, dan ijazah berada di tangan, kita tidak mungkin meminta empat tahun sebelumnya diputar kembali.
Maka, mahasiswa PIAUD harus berani memainkan golden moment itu sekarang. Jangan sampai berubah menjadi lose moment. Bangunlah Golden Portfolio sejak hari ini dan biarkan masa studi menjadi Kawah Candradimuka yang benar-benar mengubah kualitas diri.
Sebab wisuda seharusnya bukan menjadi hari ketika mahasiswa baru mulai bertanya tentang masa depan.
Wisuda mestinya menjadi hari ketika ia sudah siap menjemputnya.
