
Oleh: Ahmad Farid Utsman
Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah UNUGIRI
Ada dua kata dalam khazanah bahasa Arab yang terdengar berdekatan, tetapi membawa kita pada ruang pemaknaan yang menarik: basyirah dan bisyarah
Keduanya terdengar hampir serupa di telinga orang Indonesia. Tetapi jangan buru-buru menyamakannya.
Dalam diskursus bahasa Arab, bashīrah (بصيرة) berkelindan dengan penglihatan batin, kejernihan memahami, kesadaran, atau kemampuan melihat sesuatu melampaui yang tampak di permukaan. Sementara bisyārah (بشارة) membawa makna kabar gembira, berita baik, sesuatu yang membuat wajah manusia berseri.
Lantas, apa hubungannya dengan guru PAUD?
Banyak.
Sebab menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini, menurut saya, membutuhkan keduanya: basyirah untuk memahami betapa pentingnya pekerjaan yang sedang dilakukan, dan bisyarah agar mereka yang mengerjakannya juga memiliki harapan tentang masa depan.
Masalahnya, jangan-jangan selama ini kita terlalu banyak memberikan basyirah, tetapi kurang menghadirkan bisyarah.
Profesi yang Membutuhkan Basyirah
Menjadi guru PAUD memang membutuhkan cara pandang yang tidak biasa.
Di hadapan orang lain, aktivitas guru PAUD mungkin terlihat sederhana.
Bernyanyi.
Bertepuk tangan.
Mendongeng.
Menemani anak bermain balok.
Membantu anak memakai sepatu.
Mengusap air mata anak yang mencari ibunya.
Mengajarkan antre.
Bahkan terkadang harus membersihkan sesuatu yang mungkin tidak pernah tertulis dalam Rencana Pembelajaran.
Tetapi orang yang memiliki basyirah pendidikan akan melihatnya secara berbeda.
Ketika guru mengajari seorang anak meminta maaf, sesungguhnya ia sedang meletakkan fondasi kecerdasan sosial.
Ketika anak dibiasakan mengucapkan terima kasih, guru sedang menanamkan akhlak.
Ketika anak diberi kesempatan memilih permainan, guru sedang membangun kemampuan mengambil keputusan.
Ketika seorang anak menangis lalu dipeluk dan ditenangkan, guru sedang membantu membangun regulasi emosinya.
Dan ketika anak mengenal Allah melalui doa, rasa syukur, kasih sayang terhadap sesama dan kekagumannya pada alam, pendidikan sedang menyentuh wilayah yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemampuan membaca dan berhitung.
Di sinilah basyirah diperlukan.
Guru PAUD harus mampu melihat yang besar di balik sesuatu yang tampak kecil.
Tetapi, Kapan Bisyarah Itu Datang?
Nah, pembicaraan mulai menjadi tidak nyaman ketika kita beralih kepada kata kedua: bisyarah.
Kita sering mengatakan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Guru adalah pekerjaan mulia.
Guru PAUD sedang membangun generasi emas.
Guru mengabdi untuk masa depan bangsa.
Semua kalimat itu benar.
Tetapi setelah seminar selesai, spanduk diturunkan, tepuk tangan berhenti dan Hari Guru berlalu, ada pertanyaan yang lebih sederhana:
Bagaimana kehidupan gurunya?
Bisakah ia hidup secara layak?
Bisakah ia membiayai pendidikan anaknya sendiri?
Bisakah ia meningkatkan kompetensinya?
Bisakah ia membeli buku?
Bisakah ia mengikuti pelatihan tanpa harus menghitung terlebih dahulu uang belanja rumah?
Dan yang lebih penting: apakah profesi guru PAUD cukup menjanjikan sehingga generasi terbaik kita dengan percaya diri berkata, “Saya ingin menjadi guru PAUD”?
Di sinilah bisyārah harus turun dari langit retorika menuju bumi kebijakan.
Jangan Membayar Profesionalisme dengan Kata “Ikhlas”
Ada satu kebiasaan dalam dunia pendidikan yang perlu kita kritisi bersama: terlalu mudah menggunakan bahasa pengabdian untuk menjelaskan persoalan kesejahteraan.
Guru diminta ikhlas.
Guru diminta sabar.
Guru diminta mengabdi.
Guru diminta memahami keadaan lembaga.
Dalam Pendidikan Islam, ikhlas tentu merupakan nilai fundamental. Tetapi ikhlas tidak boleh digunakan sebagai instrumen untuk melegitimasi ketidaklayakan.
Ikhlas adalah urusan orientasi batin seseorang kepada Allah. Upah yang layak adalah urusan keadilan antarmanusia.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Seorang guru dapat sangat ikhlas sekaligus memperoleh penghasilan yang layak. Bahkan kesejahteraan yang memadai dapat membuat guru memiliki ruang lebih besar untuk belajar, meningkatkan kompetensi, membeli bahan pembelajaran, menjaga kesehatan keluarga, dan menjalankan profesinya dengan lebih tenang.
Jangan sampai kita meminta guru mengajarkan tentang keadilan kepada anak-anak, tetapi ekosistem pendidikan justru gagal menghadirkan keadilan bagi gurunya.
Persoalannya Bukan Hanya Gaji
Namun, persoalan guru PAUD juga terlalu sederhana jika hanya dibaca dari nominal honorarium.
Ada persoalan struktur sosial.
Profesi tertentu mendapatkan prestise tinggi karena masyarakat menganggapnya membutuhkan keahlian khusus. Sementara pekerjaan mengasuh dan mendidik anak kecil terkadang dianggap sesuatu yang “semua orang juga bisa”.
Padahal mendidik anak usia dini membutuhkan pemahaman tentang perkembangan kognitif, bahasa, sosial-emosional, motorik, asesmen perkembangan, kurikulum, perlindungan anak, media pembelajaran, komunikasi keluarga, hingga kemampuan mengenali kebutuhan individual setiap anak.
Artinya, pekerjaan ini bukan pekerjaan sederhana.
Yang sering sederhana justru cara masyarakat menilainya.
Ketika kompetensi profesional tidak memperoleh pengakuan sosial dan ekonomi yang sepadan, kita menghadapi paradoks: kita menyebut usia dini sebagai golden age, tetapi belum tentu memperlakukan orang-orang yang bekerja pada fase emas tersebut sebagai golden profession.
Agak aneh, bukan?
Pendidikan Kaffah Tidak Memisahkan Dunia dan Akhirat
Perspektif Pendidikan Islam menawarkan cara pandang yang lebih utuh.
Pendidikan yang kaffah tidak seharusnya mempertentangkan spiritualitas dengan profesionalitas, pengabdian dengan kesejahteraan, akhirat dengan dunia, atau ilmu agama dengan kompetensi kontemporer.
Guru PAUD Islam tidak cukup hanya pandai mengajarkan doa.
Ia perlu memahami perkembangan anak.
Tidak cukup mampu membaca Al-Qur’an.
Ia juga harus memiliki literasi digital.
Tidak cukup penyayang.
Ia harus profesional.
Tidak cukup ikhlas.
Ia juga perlu kompeten.
Tidak cukup memiliki basyirah tentang kemuliaan profesinya.
Ia juga berhak memperoleh bisyārah tentang masa depannya.
Itulah pendidikan yang utuh.
Maka Kampus PIAUD Tidak Boleh Hanya Mencetak Guru
Di titik inilah perguruan tinggi penyelenggara PIAUD juga perlu bercermin.
Jika realitas sosial-ekonomi berubah, cara kita mempersiapkan calon pendidik juga harus berubah.
Program Studi PIAUD tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang memiliki satu skenario kehidupan: kuliah, wisuda, kemudian melamar menjadi guru.
Calon guru PAUD harus dibekali kemampuan menjadi edupreneur, storyteller, pengembang media pembelajaran, penulis cerita anak, fasilitator parenting, pengelola lembaga PAUD, kreator konten edukasi, peneliti anak usia dini, dan berbagai profesi baru yang terus berkembang.
Bukan untuk menjauhkan mereka dari profesi guru.
Justru untuk memperkuat ekosistem profesinya.
Seorang guru boleh mengajar pada pagi hari, menulis buku pada malam hari, menjadi storyteller pada akhir pekan, mengembangkan media pembelajaran digital, menghasilkan kekayaan intelektual, atau membangun usaha pendidikan.
Mengapa tidak?
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk takut terhadap kemajuan ekonomi. Yang diatur adalah bagaimana harta diperoleh, untuk apa digunakan, dan apakah di dalam prosesnya terdapat kemaslahatan.
Dari Basyirah Menuju Bisyarah
Pada akhirnya, kita membutuhkan perubahan cara pandang.
Kepada guru PAUD, kita membutuhkan basyirah: kesadaran bahwa pekerjaan mendidik anak bukan pekerjaan remeh. Di tangan merekalah fondasi manusia sedang dibangun.
Kepada pemerintah, penyelenggara pendidikan, perguruan tinggi, organisasi profesi dan masyarakat, kita membutuhkan keberanian menghadirkan bisyarah: kabar baik yang nyata berupa peningkatan kompetensi, jalur karier, pengakuan profesional, ekosistem kerja yang sehat, serta kesejahteraan yang semakin baik.
Sebab tidak adil apabila kita terus meminta guru PAUD menyiapkan generasi masa depan, sementara mereka sendiri dibiarkan cemas memikirkan masa depannya.
Tidak cukup mengatakan bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa.
Panggilan itu harus dirawat.
Tidak cukup mengatakan guru PAUD adalah pekerjaan mulia.
Kemuliaan itu harus dihargai.
Dan tidak cukup meminta mereka memiliki basyirah untuk melihat pahala dan kemuliaan di balik pekerjaannya.
Sudah waktunya negara, masyarakat, lembaga pendidikan, dan kita semua bekerja bersama menghadirkan bisyarah bagi kehidupannya.
Sebab guru yang kita harapkan mampu membuat wajah anak-anak berseri, juga layak mendapatkan alasan untuk membuat wajahnya sendiri berseri.
