
Oleh: Ahmad Farid Utsman
Kaprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah UNUGIRI
Beberapa hari menjelang tahun ajaran baru, pemandangan yang paling sering kita jumpai adalah pusat perbelanjaan yang dipenuhi orang tua. Ada yang membeli tas baru, sepatu baru, seragam baru, kotak pensil baru, bahkan bekal makan siang yang lucu dan berwarna-warni. Tidak ada yang salah dengan itu. Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita renungkan.
Apakah yang benar-benar sedang kita siapkan adalah anaknya, atau hanya perlengkapan sekolahnya?
Banyak orang tua menganggap kesiapan sekolah identik dengan kelengkapan perlengkapan belajar. Padahal, bagi anak usia dini, kesiapan yang paling penting justru bukan terletak pada tas yang dikenakan, melainkan pada kesiapan hati, emosi, dan rasa amannya.
Masuk sekolah adalah pengalaman besar bagi seorang anak. Ia akan bertemu lingkungan baru, guru baru, teman baru, aturan baru, bahkan rutinitas baru yang berbeda dari kehidupan di rumah. Perubahan sebesar ini tentu tidak selalu mudah diterima oleh anak yang dunianya masih sangat sederhana.
Tidak sedikit orang tua yang berharap anaknya langsung berani, langsung mandiri, dan langsung mampu beradaptasi pada hari pertama sekolah. Ketika anak menangis, sebagian merasa malu. Ketika anak enggan masuk kelas, sebagian lagi mulai membandingkan dengan anak lain.
Padahal, setiap anak memiliki irama tumbuh yang berbeda.
Dalam perspektif Pendidikan Islam Anak Usia Dini, pendidikan selalu dimulai dari rasa aman sebelum pengetahuan. Anak yang merasa diterima, dicintai, dan dihargai akan lebih mudah membuka dirinya terhadap pengalaman belajar baru.
Karena itu, beberapa hari sebelum sekolah dimulai, orang tua sebaiknya mulai “menghangatkan” suasana sekolah di rumah. Ceritakan hal-hal menyenangkan tentang sekolah. Ajak anak melihat foto sekolahnya. Perkenalkan nama gurunya. Bangun imajinasi positif bahwa sekolah adalah tempat bermain, berteman, dan menemukan banyak pengalaman baru.
Sayangnya, masih ada orang tua yang menggunakan sekolah sebagai alat menakut-nakuti.
“Kalau nakal nanti masuk sekolah, ya.”
“Kalau tidak mau makan, nanti dimarahi Bu Guru.”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi perlahan membentuk persepsi bahwa sekolah adalah tempat hukuman. Akibatnya, anak datang ke sekolah bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan rasa takut.
Lebih dari itu, tahun ajaran baru juga menjadi momentum bagi orang tua untuk mengevaluasi pola pengasuhan di rumah. Sekolah tidak akan mampu bekerja sendiri apabila nilai-nilai yang diajarkan guru tidak mendapat penguatan di lingkungan keluarga.
Guru mengajarkan disiplin, tetapi anak melihat orang tuanya sering mengingkari janji.
Guru mengajarkan antre, tetapi anak melihat orang dewasa justru saling berebut.
Guru mengajarkan berkata lembut, tetapi rumah justru dipenuhi bentakan.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ucapkan, melainkan terutama dari apa yang kita lakukan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa hati anak ibarat permata yang masih bening. Apa yang pertama kali ditorehkan kepadanya akan menjadi bekal kehidupannya kelak. Karena itu, pendidikan anak bukan sekadar mengisi pengetahuan, tetapi membentuk kebiasaan baik melalui keteladanan.
Memulai tahun ajaran baru juga bukan saat yang tepat untuk membebani anak dengan berbagai target akademik. Anak usia dini tidak membutuhkan tekanan agar cepat membaca, cepat berhitung, atau cepat menjadi juara kelas. Mereka justru membutuhkan ruang untuk bermain, bertanya, mencoba, gagal, bangkit, dan menemukan rasa percaya diri.
Ironisnya, kadang yang lebih cemas menghadapi sekolah bukan anak, melainkan orang tuanya. Kita terlalu sibuk membandingkan perkembangan anak dengan anak lain. Padahal setiap anak diciptakan Allah dengan keunikan dan jalan tumbuhnya masing-masing.
Tugas orang tua bukan mempercepat semua anak mencapai garis akhir yang sama, melainkan menemani mereka bertumbuh sesuai fitrahnya.
Akhirnya, tahun ajaran baru seharusnya tidak hanya menjadi awal perjalanan belajar bagi anak, tetapi juga awal pembelajaran bagi orang tua. Sebab sesungguhnya, ketika seorang anak mulai memasuki gerbang sekolah, orang tualah yang sedang memasuki babak baru dalam perjalanan mendidik.
Maka sebelum mengantarkan anak ke sekolah dengan tas yang baru, jangan lupa menghadiahinya sesuatu yang jauh lebih berharga: pelukan yang menenangkan, doa yang tulus, senyum yang meyakinkan, dan keyakinan bahwa rumah akan selalu menjadi tempat ia kembali.
Karena anak-anak tidak pernah membutuhkan orang tua yang sempurna.
Mereka hanya membutuhkan orang tua yang benar-benar hadir.
