Oleh Ahmad Farid Utsman (Kaprodi PIAUD Fakultas Tarbiyah UNUGIRI)

Belakangan ini, kata coding terdengar semakin akrab di telinga dunia pendidikan. Ia dibicarakan di seminar, masuk ke obrolan orang tua, dijadikan simbol kemajuan sekolah, bahkan mulai dipromosikan sebagai bekal masa depan anak. Siapa yang tidak tergoda? Coding terdengar modern, canggih, dan menjanjikan. Di tengah dunia yang makin digital, ia seperti tiket menuju masa depan.
Masalahnya, setiap kali ada hal baru dalam pendidikan, kita sering terlalu cepat jatuh cinta pada istilahnya, tetapi terlalu lambat menguji kecocokannya dengan dunia anak.
Di titik inilah pertanyaan penting harus diajukan: coding untuk anak usia dini itu kebutuhan, atau jangan-jangan sekadar euforia orang dewasa?
Pertanyaan ini penting, sebab dalam dunia Pendidikan Anak Usia Dini, tidak semua yang baik untuk masa depan otomatis baik jika diberikan terlalu cepat. Anak usia dini bukan miniatur programmer. Mereka adalah manusia kecil yang sedang membangun fondasi: motorik, bahasa, sosial-emosional, imajinasi, rasa ingin tahu, kemampuan problem solving, dan kebiasaan belajar. Maka, ketika coding masuk ke ruang PAUD, yang harus diuji bukan pertama-tama seberapa modern isinya, tetapi apakah ia sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.
Kalau coding dimaknai secara sempit sebagai menatap layar, mengikuti instruksi teknis, atau mengejar hasil yang terlihat keren di mata orang tua, maka kita perlu berhenti sejenak. Jangan sampai anak usia dini didorong terlalu cepat masuk ke logika produktivitas, sementara kebutuhan dasarnya sebagai anak justru terpinggirkan.
Sebab anak kecil tidak pertama-tama butuh menjadi canggih. Mereka butuh tumbuh utuh.
Namun di sisi lain, menolak coding mentah-mentah juga bukan jawaban yang bijak. Dunia memang sedang berubah. Anak-anak hari ini akan hidup di zaman yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka akan bersentuhan dengan teknologi, sistem digital, kecerdasan buatan, dan berbagai bentuk berpikir komputasional yang makin luas. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sikap anti, tetapi cara baca yang tepat.
Dari kaca mata PAUD, coding baru relevan jika dipahami bukan sebagai kursus pemrograman dini, melainkan sebagai pintu masuk untuk melatih berpikir runtut, memecahkan masalah, mengenali pola, menyusun langkah, dan berani mencoba ulang. Dengan kata lain, yang penting bukan anak bisa menulis bahasa pemrograman, tetapi anak mulai terbiasa berpikir sistematis.
Nah, kalau begitu, coding sesungguhnya bisa hadir dengan wajah yang jauh lebih ramah anak.
Ia tidak harus dimulai dari laptop.
Ia tidak harus selalu lewat aplikasi.
Ia tidak harus dibungkus secara teknis.
Coding pada anak usia dini bisa dimulai dari permainan sederhana: menyusun urutan, memberi instruksi gerak, mengikuti pola, menyelesaikan tantangan, bermain arah, atau merancang langkah dari titik awal ke tujuan. Anak yang belajar menyusun balok secara runtut, bermain puzzle, mengikuti pola gerak, atau menyusun instruksi sederhana, sesungguhnya sedang membangun dasar berpikir komputasional.
Di sinilah kritik terhadap euforia coding perlu ditegaskan. Yang sering salah bukan idenya, tetapi cara membawanya ke anak.
Banyak orang dewasa terlalu cepat bangga jika anak kecil terlihat “sudah belajar coding”, padahal yang terjadi kadang hanya aktivitas simbolik untuk memuaskan gengsi lembaga atau kekaguman orang tua. Anak dipaksa mengikuti materi yang belum tentu mereka pahami. Kelas dibuat tampak modern, tetapi belum tentu bermakna. Teknologi hadir, tetapi imajinasi justru menyusut.
Padahal, kalau coding masuk ke PAUD dengan cara yang salah, ia bisa menjadi bentuk baru dari percepatan yang tidak perlu. Anak yang seharusnya masih banyak bergerak, bermain, berimajinasi, dan belajar lewat pengalaman konkret, malah didorong terlalu cepat masuk ke pola belajar yang teknis dan kognitif semata.
Ini berbahaya.
Karena dalam pendidikan anak usia dini, masalah terbesar sering bukan kurangnya inovasi, tetapi kegagalan orang dewasa menahan diri. Kita terlalu cepat ingin anak tampak unggul. Terlalu cepat ingin mereka terlihat “siap masa depan”. Terlalu cepat ingin menempelkan label modern pada lembaga pendidikan. Akibatnya, dunia anak pelan-pelan dipersempit oleh ambisi orang dewasa.
Maka posisi yang lebih adil adalah ini: coding boleh dikenalkan, tetapi harus ditundukkan pada prinsip PAUD, bukan sebaliknya.
Di titik ini, guru PAUD dan institusi pendidikan punya tugas besar. Mereka tidak boleh latah. Tidak semua tren pendidikan harus diterima tanpa penyaringan. Lembaga PAUD harus berani bertanya: apakah program coding yang kami kenalkan benar-benar membangun kemampuan dasar anak? Apakah ia memperkuat rasa ingin tahu? Apakah ia tetap memberi ruang gerak, sosial, dan imajinasi? Ataukah hanya menjadi etalase modernitas?
Program Studi PIAUD juga perlu mengambil posisi strategis. Mahasiswa calon guru PAUD harus dibekali perspektif yang jernih: bahwa teknologi, termasuk coding, bukan musuh. Tetapi ia juga bukan dewa baru yang harus disembah. Ia adalah alat. Dan seperti alat lainnya, nilainya ditentukan oleh cara kita memakainya.
Karena itu, kajian kritis tentang coding dalam PAUD harus berdiri di dua kaki sekaligus: terbuka pada perkembangan zaman, tetapi tetap setia pada hakikat anak usia dini.
Anak boleh dikenalkan pada logika berpikir runtut. Anak boleh diajak bermain pola dan instruksi. Anak boleh berkenalan dengan dunia digital secara bertahap.
Tetapi jangan sampai semua itu membuat mereka kehilangan hak paling dasarnya: bermain, bergerak, bertanya, berkhayal, dan tumbuh sebagai anak.
Pada akhirnya, masa depan memang penting. Tetapi pendidikan anak usia dini tidak boleh dibangun dengan cara mencuri masa kecil anak demi mengejar masa depan itu.
Kalau coding hadir dengan bijak, ia bisa menjadi alat belajar yang menarik. Kalau coding hadir dengan gegabah, ia hanya akan menjadi simbol kemajuan yang terlalu mahal dibayar oleh dunia anak.
Dan dari sinilah kita harus memulai: bukan dengan bertanya seberapa cepat anak bisa coding, tetapi seberapa bijak orang dewasa mengenalkannya.
