1 Muharram 1448 H dan Anak-Anak yang Sedang Belajar Hijrah

Oleh: Dr. Hj. Nyai Ulfa, M.Pd.I (Dosen PIAUD sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah UNUGIRI)

Setiap Tahun Baru Islam datang, orang dewasa biasanya sibuk dengan dua hal: ucapan dan harapan.

Kalender Hijriyah diganti. Kata hijrah kembali dipakai. Poster dipasang. Doa awal tahun dibacakan. Semua terasa khidmat, terasa religius, terasa penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang sungguh-sungguh dijawab: apa arti 1 Muharram bagi anak usia dini?

Sebab bagi anak kecil, pergantian tahun bukan pertama-tama soal angka. Mereka belum terlalu peduli apakah ini 1448 Hijriyah atau tahun berapa pun setelahnya. Yang mereka pahami adalah suasana. Yang mereka tangkap adalah kebiasaan. Yang mereka simpan adalah rasa.

Maka kalau Tahun Baru Islam hanya hadir sebagai seremoni, anak mungkin akan ingat keramaiannya. Tetapi belum tentu menangkap maknanya.

Di sinilah Pendidikan Islam Anak Usia Dini punya cara pandang yang khas. Dari kaca mata PIAUD, 1 Muharram bukan semata momen kalender, tetapi momen pendidikan jiwa. Bukan untuk membebani anak dengan sejarah yang terlalu berat, melainkan untuk memperkenalkan satu hal sederhana tetapi sangat penting: bahwa hidup selalu memberi ruang untuk berubah menjadi lebih baik.

Bukankah itu inti hijrah?

Hijrah bukan hanya peristiwa besar dalam sejarah Nabi. Hijrah juga bisa menjadi bahasa pendidikan bagi anak usia dini. Bukan dalam makna berpindah tempat, tetapi dalam makna bertumbuh. Dari yang semula suka berebut menjadi mau berbagi. Dari yang mudah marah menjadi lebih tenang. Dari yang enggan berdoa menjadi terbiasa mengingat Allah. Dari yang belum tertib menjadi mulai belajar disiplin.

Untuk anak usia dini, hijrah memang harus dibumikan ke dalam kebiasaan.

Dan di titik inilah pendekatan Aswaja ala Nahdlatul Ulama menjadi sangat relevan. Aswaja tidak membiasakan agama hadir dengan cara keras, tergesa, dan kaku. Aswaja mengajarkan jalan tengah, kelembutan, keseimbangan, dan kebijaksanaan. Dalam istilah yang akrab di kalangan NU, ada semangat tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Semua itu sesungguhnya sangat dekat dengan dunia anak usia dini.

Tawassuth mengajarkan sikap tidak berlebihan. Dalam mendidik anak, ini berarti agama tidak ditanamkan dengan tekanan yang membuat anak takut, tetapi dengan cara yang ramah dan bertahap.
Tawazun mengajarkan keseimbangan. Anak dibimbing mengenal Allah, tetapi tetap melalui dunia mereka: bermain, bercerita, bernyanyi, dan pembiasaan yang menggembirakan.
Tasamuh mengajarkan sikap menghargai. Sejak dini anak bisa dikenalkan untuk berteman baik, tidak mudah mengejek, dan belajar hidup bersama dengan penuh hormat.
I’tidal mengajarkan keteguhan yang lurus dan adil. Anak dibiasakan jujur, tertib, dan bertanggung jawab dalam hal-hal kecil.

Lihatlah, betapa nilai-nilai Aswaja itu sebenarnya tidak jauh dari kebutuhan dasar pendidikan anak usia dini.

Masalahnya, kita kadang terlalu terburu-buru mengajarkan agama sebagai pengetahuan, bukan sebagai pengalaman. Anak dikenalkan istilah-istilah besar, tetapi tidak selalu dibantu merasakan kehangatan nilainya. Mereka mendengar kata hijrah, tetapi tidak selalu melihat contoh perubahan itu di sekitarnya. Mereka ikut kegiatan tahun baru Islam, tetapi sesudah itu hidup kembali berjalan tanpa jejak pembiasaan yang berarti.

Padahal anak usia dini tidak belajar dari slogan.

Mereka belajar dari apa yang berulang.

Kalau guru di kelas mengajak anak berkata jujur, itu pendidikan hijrah.
Kalau orang tua membiasakan anak mencium tangan dengan hormat, itu pendidikan hijrah.
Kalau anak diajak membaca doa dengan tenang, itu pendidikan hijrah.
Kalau anak dibiasakan berbagi makanan kepada temannya, itu juga pendidikan hijrah.

Dalam tradisi NU, agama memang tidak cukup diajarkan dengan dalil, tetapi juga dengan laku. Anak-anak kecil justru lebih mudah menangkap Islam dari kebiasaan yang lembut: mendengar shalawat, melihat orang tua berdoa, belajar salam, mencintai guru, menghormati yang lebih tua, dan terbiasa hidup dalam suasana religius yang hangat.

Di situlah Tahun Baru Islam menemukan maknanya bagi PIAUD: bukan sekadar memperingati, tetapi membiasakan.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Momen besar Islam kadang diperlakukan seperti agenda tahunan yang penting diramaikan, tetapi kurang sungguh-sungguh ditanamkan. Ada pawai, ada lomba, ada panggung, ada dokumentasi. Semua baik. Tetapi kalau berhenti di sana, 1 Muharram hanya akan menjadi perayaan yang lewat, bukan pendidikan yang tinggal.

Padahal anak usia dini tidak butuh kemeriahan yang sebentar.

Mereka butuh makna yang menetap.

Dari sudut pandang PIAUD, Tahun Baru Islam seharusnya menjadi kesempatan untuk menata lagi dunia anak dari hal paling kecil. Misalnya, guru mengajak anak membuat kebiasaan baik di bulan Muharram. Orang tua mengurangi bentakan dan memperbanyak dialog. Sekolah menghidupkan cerita-cerita Nabi dengan bahasa yang lembut. Anak dibiasakan lebih rajin berdoa, lebih suka berbagi, lebih hormat kepada orang tua dan guru.

Itulah wajah pendidikan Islam yang dekat dengan ruh Aswaja: tidak gaduh, tetapi membekas. Tidak keras, tetapi menguatkan. Tidak hanya menyuruh, tetapi memberi teladan.

Sebab dalam pendidikan anak usia dini, perubahan besar memang tidak lahir dari pidato panjang. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang sabar diulang.

Dan mungkin, di sinilah 1 Muharram menemukan makna terdalamnya bagi dunia PIAUD: bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi menanam masa depan.

Masa depan itu hari ini sedang duduk di ruang-ruang PAUD. Mereka belum pandai menafsirkan sejarah. Mereka belum fasih memahami filsafat hijrah. Tetapi mereka sedang belajar menjadi manusia sedikit demi sedikit. Dan tugas orang dewasa adalah memastikan bahwa langkah kecil mereka dipenuhi nilai yang benar.

Maka Tahun Baru Islam jangan hanya jadi spanduk yang dipasang lalu dilepas. Jangan hanya jadi ucapan yang indah di status lalu tenggelam. Jangan hanya jadi acara yang meriah lalu habis.

Biarlah ia menjadi titik berangkat.
Bagi anak untuk belajar membiasakan kebaikan.
Bagi guru untuk menguatkan pendidikan akhlak.
Bagi orang tua untuk memperbaiki cara mendidik.
Dan bagi kita semua, untuk mengingat bahwa anak-anak juga berhak merasakan agama sebagai sesuatu yang lembut, hangat, dan menumbuhkan.

Sebab pada akhirnya, hijrah bagi anak usia dini tidak harus terdengar besar.

Cukup pelan-pelan.
Cukup sederhana.
Cukup istiqamah.

Karena dari yang pelan-pelan itulah akhlak tumbuh.
Dan dari akhlak yang tumbuh itulah ruh Aswaja hidup.
Bukan hanya di mimbar,
tetapi di rumah, di sekolah, dan di hati anak-anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *