
Oleh: Siti Labiba Kusna (Sekretaris Prodi PIAUD UNUGIRI)
Setiap Idul Adha datang, anak-anak biasanya melihat sesuatu yang tidak mereka lihat setiap hari: hewan qurban, keramaian orang dewasa, pembagian daging, dan suasana yang terasa berbeda. Di titik itulah, anak mulai bertanya. Kadang sederhana, kadang justru sangat dalam: “Kenapa hewannya disembelih?” atau “Apakah hewannya sakit?”
Pertanyaan semacam ini tidak boleh dijawab asal-asalan. Sebab bagi anak usia dini, Idul Adha bisa menjadi pelajaran yang indah, tetapi juga bisa membingungkan jika orang dewasa gagal menerjemahkan maknanya.
Masalahnya, tidak sedikit orang dewasa yang mengenalkan qurban kepada anak terlalu mentah. Anak diajak melihat prosesnya, tetapi tidak didampingi maknanya. Anak melihat hewan disembelih, tetapi tidak dijelaskan bahwa dalam Islam, hewan tidak boleh diperlakukan kasar, tidak boleh disakiti sebelum waktunya, dan tidak boleh dijadikan tontonan kekejaman.
Di sinilah edukasi menjadi penting. Qurban harus dikenalkan kepada anak bukan sebagai peristiwa kekerasan, tetapi sebagai ibadah berbagi yang dilakukan dengan cara paling baik, paling cepat, dan paling beradab.
Anak usia dini belum siap menerima penjelasan yang berat. Karena itu, bahasa orang tua dan guru harus lembut. Misalnya, jangan mengatakan, “Hewannya dipotong karena memang harus begitu.” Kalimat seperti itu terlalu keras untuk dunia batin anak. Gunakan bahasa yang lebih aman, seperti: “Ini hewan qurban. Dalam Islam, hewan ini dipelihara dengan baik, lalu diserahkan sebagai ibadah kepada Allah, dan dagingnya dibagikan kepada banyak orang.”
Kalimat ini jauh lebih menenangkan. Anak tidak diarahkan pada darah atau rasa takut, tetapi pada makna berbagi dan ibadah.
Kalau anak bertanya apakah hewan itu disakiti, jawabannya juga harus mendidik. Kita bisa mengatakan: “Tidak boleh disakiti. Dalam ajaran Islam, hewan harus diperlakukan dengan baik, diberi makan, dijaga, dan saat penyembelihan harus dilakukan dengan cara yang cepat dan tidak menyiksa.”
Ini penting, karena anak harus memahami bahwa Islam tidak mengajarkan kekejaman. Justru qurban mengajarkan bahwa bahkan kepada hewan pun manusia harus beradab.
Agar anak lebih mudah paham, kita bisa memakai analogi yang sederhana dan pantas. Misalnya begini: “Kalau kita sayang pada sesuatu, kita tidak boleh memperlakukannya kasar. Begitu juga dalam qurban. Hewan qurban dirawat dulu dengan baik, lalu dijadikan bagian dari ibadah untuk berbagi kepada banyak orang. Jadi bukan untuk bermain-main atau menyakiti.”
Analogi ini lebih tepat daripada penjelasan yang terlalu teknis. Anak usia dini tidak butuh rincian proses. Mereka butuh arah emosi yang benar: bahwa qurban adalah ibadah yang dilakukan dengan hormat, bukan dengan kekerasan.
Dalam perspektif PIAUD, ini sangat penting. Anak belajar bukan hanya dari apa yang dijelaskan, tetapi dari bagaimana orang dewasa membangun suasana. Jika orang dewasa gaduh, bercanda berlebihan, atau memperlakukan hewan tanpa empati, anak bisa menangkap pesan yang keliru. Mereka bisa mengira bahwa menyakiti makhluk hidup adalah sesuatu yang biasa. Padahal yang seharusnya ditanamkan justru sebaliknya: kasih sayang, ketenangan, dan rasa hormat terhadap kehidupan.
Karena itu, anak tidak harus selalu melihat langsung proses penyembelihan. Ini perlu ditegaskan. Tidak semua anak siap secara emosional. Yang lebih penting bukan melihat prosesnya, tetapi memahami nilainya. Anak bisa diajak terlibat dalam bentuk lain yang lebih sesuai: melihat hewan qurban dari jauh, membantu menyiapkan kantong pembagian, ikut mengantar daging, atau diajak bercerita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan bahasa yang ramah anak.
Di sinilah Idul Adha menjadi pendidikan karakter yang sangat kaya. Anak belajar bahwa ada hari besar untuk berbagi. Anak belajar bahwa makanan yang dibagikan berasal dari ibadah. Anak belajar bahwa orang lain juga harus ikut merasakan kebahagiaan. Dan yang tak kalah penting, anak belajar bahwa agama tidak identik dengan kekerasan, tetapi dengan ketaatan yang penuh kasih dan kepedulian.
Akhirnya, kita perlu jujur: yang sering membuat anak bingung bukan ibadah qurbannya, tetapi cara orang dewasa menjelaskannya. Jika dijelaskan dengan kasar, anak bisa takut. Jika dijelaskan dengan tenang, anak bisa paham.
Karena itu, jangan biarkan Idul Adha menjadi pengalaman yang keras di mata anak.
Biarlah ia menjadi pelajaran yang lembut:
tentang berbagi,
tentang taat,
tentang kasih sayang,
dan tentang bagaimana agama mengajarkan manusia untuk tetap beradab, bahkan kepada hewan.
Sebab qurban bukan pelajaran kekerasan.
Ia adalah pelajaran cinta yang diajarkan lewat pengorbanan.
