
Setiap kali Dewan Pendidikan baru terbentuk, kita selalu punya harapan yang hampir sama: semoga pendidikan di daerah ini lebih baik. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: siapa yang sungguh-sungguh akan diperjuangkan?
Sebab dalam banyak percakapan kebijakan, PAUD sering terdengar penting, tetapi belum tentu diperlakukan penting. Ia dipuji sebagai fondasi, tetapi kerap diletakkan di pinggir prioritas. Ia dibicarakan sebagai masa emas, tetapi ketika soal anggaran, afirmasi program, dan perlindungan profesi datang, yang emas itu mendadak seperti kuningan.
Karena itu, formasi baru Dewan Pendidikan Bojonegoro seharusnya tidak hanya dibaca sebagai pergantian kepengurusan. Ia harus dibaca sebagai ujian keberpihakan: apakah dunia anak usia dini sungguh masuk dalam radar kebijakan, atau lagi-lagi hanya menjadi pelengkap pidato.
Padahal, kalau mau jujur, pembangunan pendidikan tidak pernah benar-benar dimulai dari jenjang yang tinggi. Ia dimulai dari anak yang baru belajar bicara, belajar menunggu giliran, belajar mengenal emosi, belajar percaya diri, dan belajar menjadi manusia. Di situlah PAUD bekerja. Sunyi, tetapi mendasar.
Sayangnya, justru yang mendasar ini sering luput dari yang strategis.
Bojonegoro memang sudah menunjukkan ikhtiar. Dinas Pendidikan menegaskan bahwa Dewan Pendidikan memiliki fungsi strategis sebagai pemberi pertimbangan, dukungan, dan pengawasan kebijakan pendidikan daerah. Proses pembentukannya pun disebut terbuka dan akuntabel. Itu tentu langkah yang baik.
Tetapi dari kaca mata PIAUD, itu baru pintu masuk. Yang lebih penting adalah: setelah terbentuk, mau dibawa ke mana?
Sebab problem PAUD kita bukan sedikit.
Masalah pertama, PAUD masih sering dianggap pelengkap. Kesadaran masyarakat memang mulai tumbuh. Kegiatan seperti Gebyar PAUD misalnya, menunjukkan adanya upaya mendorong kepedulian publik terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini.
Tapi mari jujur lagi: kesadaran lewat acara tidak cukup kalau tidak naik kelas menjadi kebijakan. PAUD tidak boleh hanya ramai saat peringatan, lalu sepi saat perencanaan. Anak usia dini tidak cukup dipromosikan, mereka harus diperjuangkan.
Masalah kedua, guru PAUD masih terlalu sering diminta mulia tanpa cukup dibela. Mereka diminta sabar, kreatif, telaten, penuh kasih, profesional, dan inovatif. Semua iya. Tetapi pada saat yang sama, banyak dari mereka masih bergulat dengan pengakuan profesi, kesejahteraan, dan perlindungan kerja yang belum sungguh kokoh.
HIMPAUDI Bojonegoro sendiri pernah menyoroti bahwa pendidik PAUD nonformal masih menghadapi persoalan pengakuan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum.
Ini bukan isu kecil. Sulit berbicara tentang mutu jika orang-orang yang memegang fondasi justru terus bekerja dalam ketidakpastian. Guru PAUD jangan hanya dipuji sebagai pahlawan masa depan anak, tetapi dibiarkan berjuang sendirian hari ini.
Masalah ketiga, mutu lembaga PAUD masih timpang. Ada lembaga yang tumbuh cepat, kreatif, dan adaptif. Ada juga yang masih berjuang dengan sarana, tata kelola, dan pendampingan mutu. Dalam situasi seperti ini, transformasi tidak boleh dibiarkan bekerja dengan logika “siapa kuat dia maju”. Negara dan daerah harus hadir.
Bojonegoro mulai bergerak lewat agenda digital parenting dan penguatan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan anak usia dini. Itu tentu patut diapresiasi.
Tetapi kita juga harus waras: teknologi bukan jawaban tunggal. Lembaga yang belum kuat tata kelolanya tidak otomatis menjadi maju hanya karena ikut bicara digital. Yang dibutuhkan adalah pendampingan mutu yang serius, pelatihan yang berkelanjutan, supervisi yang membina, dan kebijakan yang tidak membiarkan PAUD berkembang sendiri-sendiri tanpa arah.
Masalah keempat, dan ini sering luput, adalah keluarga. Kita terlalu sering membebani sekolah, padahal anak usia dini lebih banyak hidup di rumah. Kalau rumah tidak kuat, sekolah akan terus menjadi pemadam kebakaran. Karena itu, kebijakan pendidikan anak usia dini tidak cukup berhenti pada lembaga. Ia harus menyentuh parenting, literasi keluarga, dan kualitas pengasuhan.
Maka, kalau ditanya apa harapan PIAUD terhadap Dewan Pendidikan Bojonegoro yang baru, jawabannya sederhana tetapi tidak ringan.
Kami berharap Dewan Pendidikan tidak hanya sibuk membahas pendidikan dalam arti besar, tetapi lupa pada anak kecil yang justru menentukan masa depan besar itu.
Kami berharap ada keberanian untuk mendorong PAUD sebagai prioritas strategis pembangunan SDM daerah.
Kami berharap ada desakan nyata untuk menguatkan kesejahteraan dan pengakuan guru PAUD, terutama yang selama ini bekerja di jalur nonformal.
Kami berharap ada perhatian serius pada pendampingan mutu lembaga PAUD, bukan hanya penilaian administratifnya.
Kami berharap ada dorongan kebijakan untuk program parenting dan literasi keluarga, agar sekolah tidak berjalan sendirian.
Dan yang tak kalah penting, kami berharap Dewan Pendidikan membuka ruang dialog dengan perguruan tinggi, termasuk Prodi PIAUD, agar kebijakan pendidikan anak usia dini tidak miskin basis keilmuan.
Sebab jujur saja, terlalu banyak keputusan pendidikan yang dibuat jauh dari suara anak, jauh dari guru PAUD, dan jauh dari realitas pengasuhan sehari-hari.
Kalau Dewan Pendidikan yang baru ingin sungguh berarti, maka jangan biarkan PAUD hanya menjadi penonton. Jangan lagi anak usia dini dijadikan slogan fondasi, tetapi fondasinya sendiri tidak diperkuat.
Karena masa depan Bojonegoro tidak sedang menunggu anak-anak itu dewasa dulu.
Masa depan itu justru sedang duduk di kelas PAUD hari ini.
Dan pertanyaannya sederhana:
apakah kita sungguh sedang menyiapkannya, atau hanya sibuk membicarakannya?
