Oleh: Ahmad Farid Utsman (Kaprodi PIAUD UNUGIRI)

Ada banyak hal di kampus yang dirayakan dengan tepuk tangan. Tetapi tidak semua yang layak disyukuri selesai pada seremoni. Sebagian justru baru benar-benar dimulai setelah ucapan selamat mereda, karangan bunga mengering, dan unggahan media sosial berhenti berseliweran.
Begitu pula dengan capaian Akreditasi Unggul.
Di permukaan, ia memang tampak seperti puncak. Sebuah tanda bahwa kerja panjang, dokumen yang menumpuk, energi yang terkuras, rapat yang tak terhitung, dan kecemasan yang dipendam akhirnya sampai pada satu kata yang membahagiakan: unggul.
Tetapi dari kaca mata yang lebih jujur, unggul bukanlah garis finis. Ia adalah cermin. Dan sering kali, cermin jauh lebih menuntut daripada panggung.
Sebab pertanyaan sesungguhnya bukan “apakah kita sudah unggul?” melainkan “apakah keunggulan itu sudah hidup dalam keseharian kita?”
Ini penting dikatakan, terutama untuk Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sebab PIAUD bukan program studi yang sekadar mengurus administrasi pembelajaran. Ia bergerak di wilayah yang sangat mendasar: menyiapkan manusia sejak awal hidupnya. Maka ketika sebuah prodi PIAUD meraih akreditasi unggul, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kelengkapan sistem, melainkan juga kesungguhan dalam membangun masa depan anak-anak melalui pendidikan yang benar.
Karena itu, akreditasi unggul tidak boleh dibaca sebagai medali kelembagaan semata. Ia harus dibaca sebagai amanah intelektual dan moral.
Kita perlu jujur mengakui bahwa dalam dunia kampus, kadang akreditasi terlalu mudah dipersempit menjadi urusan status. Begitu predikat diraih, maka rasa lega datang, lalu kesadaran perlahan mengendur. Yang tersisa hanya kebanggaan simbolik, sementara semangat substansialnya perlahan menipis.
Di sinilah bahayanya.
Sebab unggul yang hanya tinggal di sertifikat akan cepat menjadi beku. Ia indah dipajang, tetapi tidak menggerakkan apa-apa. Ia membanggakan di dinding, tetapi tidak selalu terasa di kelas. Ia disebut-sebut dalam sambutan, tetapi belum tentu hidup dalam kultur akademik.
Padahal, keunggulan sejati dalam prodi PIAUD justru diuji pada hal-hal yang sering tidak viral: bagaimana dosen menyiapkan pembelajaran dengan sungguh-sungguh, bagaimana mahasiswa dibentuk bukan hanya cerdas tetapi juga beradab, bagaimana layanan akademik terasa manusiawi, bagaimana penelitian tidak berhenti di jurnal tetapi menyentuh kebutuhan masyarakat, dan bagaimana jejaring kemitraan benar-benar menguatkan dunia PAUD di lapangan.
Di titik ini, capaian unggul seharusnya melahirkan kerendahan hati baru.
Mengapa? Karena semakin tinggi pengakuan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk tidak hidup biasa-biasa saja. Prodi yang telah meraih unggul tidak lagi cukup hanya berjalan normal. Ia dituntut menjadi rujukan. Menjadi inspirasi. Menjadi standar yang hidup. Menjadi rumah akademik yang tidak hanya tertib secara sistem, tetapi juga hangat secara nilai.
Bagi PIAUD, ini jauh lebih penting. Dunia anak usia dini tidak membutuhkan lembaga yang sekadar unggul di atas kertas. Ia membutuhkan program studi yang unggul dalam kepekaan. Unggul dalam visi. Unggul dalam keberpihakan pada tumbuh kembang anak. Unggul dalam melahirkan pendidik yang tidak hanya piawai mengajar, tetapi juga mampu merawat jiwa anak, memahami keluarga, membaca zaman, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Karena itulah, refleksi atas akreditasi unggul sesungguhnya bukan soal kebanggaan belaka. Ia soal pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam.
Apakah mahasiswa PIAUD hari ini benar-benar merasakan atmosfer unggul itu?
Apakah dosen-dosennya terus bertumbuh, atau berhenti pada capaian?
Apakah budaya mutu sudah menjadi kebiasaan, atau hanya kuat saat asesor datang?
Apakah prodi semakin dekat dengan masyarakat, atau justru nyaman di ruang administratifnya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu enak didengar. Tetapi justru dari situlah keunggulan diuji.
Saya kira, inilah pelajaran terpenting dari sebuah akreditasi unggul: ia tidak meminta kita berpuas diri, tetapi menuntut kita lebih dewasa. Ia tidak mengajak kita merasa selesai, tetapi memaksa kita memperbarui komitmen. Ia tidak sedang mengatakan “kalian sudah hebat”, melainkan seolah berbisik, “sekarang buktikan bahwa kalian layak menjaga ini.”
Dan menjaga keunggulan selalu lebih berat daripada meraihnya.
Sebab meraih unggul bisa dikerjakan dengan momentum. Tetapi menjaga unggul hanya bisa dilakukan dengan karakter. Dengan disiplin yang tidak musiman. Dengan budaya akademik yang konsisten. Dengan kepemimpinan yang tidak cepat puas. Dengan kerja kolektif yang tidak berhenti setelah target tercapai.
Akhirnya, capaian unggul PIAUD seharusnya kita rayakan dengan cara yang lebih dewasa: bukan hanya dengan syukur yang meluap, tetapi juga dengan kesadaran yang menajam.
Bahwa unggul bukan piala.
Ia bukan pajangan.
Ia bukan sekadar gelar.
Ia adalah janji.
Janji bahwa mutu harus terus hidup.
Janji bahwa pelayanan harus terus membaik.
Janji bahwa ilmu harus semakin berdampak.
Dan janji bahwa PIAUD akan terus hadir, bukan hanya sebagai program studi yang diakui, tetapi sebagai ruang yang sungguh-sungguh menyiapkan generasi masa depan.
