Oleh: Ahmad Farid Utsman

Ada gejala yang pelan-pelan makin terasa di banyak kampus: organisasi kemahasiswaan tidak lagi menjadi rumah yang dirindukan, melainkan ruang yang sering dipandang melelahkan. Rapat dianggap membuang waktu. Forum dianggap terlalu panjang. Diskusi dipandang tidak menghasilkan apa-apa. Dan pada akhirnya, muncul satu kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan arah generasi: “Saya dapat apa?”
Kalimat itu tampak wajar. Sangat wajar. Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba terukur, serba hasil. Segala sesuatu ingin segera terlihat manfaatnya. Jika ikut organisasi, apa sertifikatnya? Jika aktif di kepanitiaan, apa jejaringnya? Jika terlibat di himpunan, apa dampaknya ke CV? Jika semua tidak segera tampak, maka pilihan paling mudah adalah mundur, diam, lalu cukup menjadi mahasiswa yang hadir di kelas, absen, ujian, lulus.
Masalahnya, kampus tidak pernah dibangun hanya untuk menghasilkan lulusan yang selesai kuliah. Kampus seharusnya melahirkan manusia yang selesai ditempa.
Di sinilah kita perlu jujur: menurunnya minat mahasiswa untuk berproses di organisasi bukan semata karena mahasiswa malas. Ada persoalan yang lebih dalam. Sebagian mahasiswa memang semakin pragmatis, tetapi sebagian lainnya sebenarnya kecewa karena organisasi tidak lagi memberi energi, tidak lagi menghadirkan makna, bahkan kadang kehilangan orientasi. Organisasi terlalu sibuk mengurus formalitas, terlalu miskin gagasan, terlalu banyak seremoni, tetapi terlalu sedikit pengkaderan yang sungguh-sungguh.
Akibatnya, mahasiswa apatis bukan hanya karena mereka egois, tetapi juga karena mereka tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk tinggal.
Dari kaca mata pendidikan, khususnya pendidikan tinggi ke-PAUD-an, ini persoalan yang serius. Dunia PAUD bukan bidang yang bisa ditopang oleh orang-orang yang hanya selesai di ruang kelas. Bidang ini membutuhkan kader yang hidup, peka, kreatif, tahan proses, mampu membaca realitas sosial, dan siap bekerja untuk anak-anak, keluarga, serta masyarakat. Jika mahasiswa PIAUD hanya dibentuk menjadi pencari nilai akademik, lalu kehilangan kepekaan sosial dan jiwa gerakan, maka kita sedang menyiapkan lulusan yang rapi di transkrip, tetapi tipis daya juangnya.
Padahal, dunia PAUD tidak butuh lulusan yang hanya pandai menjawab soal. Dunia PAUD membutuhkan manusia yang punya empati, daya tahan, kemampuan bekerja sama, kemampuan memimpin, dan kesediaan untuk hadir di tengah persoalan nyata.
Organisasi kemahasiswaan seharusnya menjadi laboratorium itu.
Di organisasi, mahasiswa belajar sesuatu yang tidak sepenuhnya diajarkan di kelas. Mereka belajar mendengar orang lain. Belajar berbeda pendapat tanpa saling menjatuhkan. Belajar menyusun program. Belajar menghadapi kegagalan kegiatan. Belajar bekerja dalam tekanan. Belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa perubahan tidak lahir dari niat baik saja, tetapi juga dari disiplin, strategi, dan kesabaran.
Sayangnya, hari ini banyak mahasiswa melihat organisasi sebagai beban tambahan, bukan ruang pertumbuhan. Mereka merasa organisasi hanya menyita tenaga, tetapi tidak cukup memberi hasil. Dan di beberapa titik, mereka tidak sepenuhnya salah. Ada organisasi yang terlalu sibuk mempertahankan bentuk, tetapi lupa menghidupkan isi. Ada pengurus yang aktif hanya saat pelantikan, tetapi pasif saat kerja substantif. Ada kegiatan yang ramai di poster, tetapi miskin dampak. Ada pula budaya senioritas yang membuat kader muda lebih sering disuruh patuh daripada diajak bertumbuh.
Kalau begini terus, jangan salahkan mahasiswa jika mereka merasa organisasi hanyalah panggung kecil yang tidak layak diperjuangkan.
Karena itu, untuk membangkitkan kembali gairah organisasi, yang perlu dibenahi bukan hanya mahasiswanya, tetapi juga ekosistemnya.
Apa yang harus dilakukan mahasiswa?
Pertama, mahasiswa perlu mengubah cara pandang. Organisasi jangan dilihat semata dengan pertanyaan “saya dapat apa?”, tetapi juga “saya sedang dibentuk menjadi siapa?”. Ini penting. Sebab tidak semua hasil pertumbuhan bisa langsung difoto dan diunggah. Ada hasil yang baru terasa lima tahun kemudian: keberanian bicara, keteguhan bersikap, daya tahan menghadapi tekanan, kemampuan memimpin tim, dan kepekaan membaca masalah. Semua itu sering lahir dari proses yang waktu kuliah terasa capek, tetapi setelah lulus justru menjadi bekal paling mahal.
Kedua, mahasiswa perlu berani masuk organisasi dengan orientasi belajar, bukan sekadar posisi. Banyak yang ingin cepat jadi ketua, cepat dikenal, cepat punya jabatan. Padahal organisasi yang sehat membutuhkan anggota yang siap bekerja, bukan hanya tokoh yang ingin tampil. Kader militan lahir bukan dari ambisi instan, tetapi dari kesediaan menempuh proses yang panjang.
Ketiga, mahasiswa PIAUD perlu sadar bahwa bidang ke-PAUD-an adalah bidang pengabdian peradaban. Ini bukan sekadar jurusan untuk menjadi guru anak usia dini. Ini bidang strategis yang menyentuh fondasi manusia. Maka organisasi mahasiswa PIAUD tidak boleh hanya hidup untuk agenda seremonial, tetapi harus menjadi ruang tumbuh bagi calon pendidik, penggerak komunitas, pelaku literasi keluarga, pendamping parenting, dan calon pemimpin di ekosistem PAUD.
Lalu apa yang harus dilakukan kampus?
Pertama, kampus harus berhenti memandang organisasi mahasiswa sebagai pelengkap administrasi. Organisasi adalah bagian dari proses pendidikan. Karena itu, organisasi perlu didampingi, bukan hanya diawasi. Dibina, bukan hanya dinilai. Kampus perlu hadir sebagai pembangun ekosistem kaderisasi, bukan sekadar pemberi izin kegiatan.
Kedua, kampus harus membantu organisasi menjadi relevan. Mahasiswa hari ini tidak tertarik pada forum yang tidak nyambung dengan kebutuhan mereka. Maka organisasi harus diarahkan pada agenda yang konkret, aktual, dan berdampak. Di lingkungan PIAUD, misalnya, organisasi bisa menjadi motor gerakan literasi parenting, kampanye tumbuh kembang anak, pelatihan media pembelajaran kreatif, edukasi digital untuk orang tua, pendampingan lembaga PAUD, atau advokasi isu-isu anak usia dini. Ketika mahasiswa merasa organisasi menyentuh realitas, mereka akan lebih mudah menemukan makna.
Ketiga, kampus perlu membangun sistem apresiasi yang sehat. Bukan berarti organisasi harus selalu diukur dengan uang atau fasilitas, tetapi mahasiswa perlu merasa bahwa proses mereka dihargai. Pengalaman organisasi harus dihubungkan dengan pengembangan kapasitas, rekognisi prestasi, peluang pelatihan, akses jejaring, hingga penguatan portofolio yang bermakna. Bukan untuk memelihara pragmatisme, tetapi untuk menunjukkan bahwa kampus sungguh menganggap serius proses pengorganisasian mahasiswa.
Keempat, pembina organisasi harus benar-benar menjadi penggerak kaderisasi. Organisasi mahasiswa akan mati perlahan jika pembinanya hanya hadir saat tanda tangan proposal. Di sinilah dosen dan pimpinan program studi perlu turun lebih dekat: memberi inspirasi, mengarahkan agenda, membuka jejaring, dan menyuntikkan gagasan. Mahasiswa biasanya tidak kekurangan energi, tetapi sering kekurangan arah.
