Jurnal Abata PIAUD UNUGIRI, Dari Ruang Kampus Menuju Solusi Nyata untuk Masyarakat

BOJONEGORO – Tidak semua kerja akademik hadir dengan gegap gempita. Sebagian justru tumbuh dalam ketekunan, ketelitian, dan kesabaran membaca persoalan masyarakat satu demi satu. Di lingkungan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI), semangat itu hadir melalui Abata: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

Jurnal ini menjadi salah satu wajah penting tradisi ilmiah PIAUD UNUGIRI. Di laman resminya, Abata disebut sebagai jurnal yang didedikasikan untuk mempublikasikan hasil penelitian berkualitas di bidang pendidikan anak usia dini dan perkembangan anak, dengan cakupan tema seperti perkembangan anak, parenting, manajemen lembaga PAUD, asesmen, psikologi perkembangan, strategi pembelajaran, alat permainan edukatif, media pembelajaran, dan tema lain yang berkaitan dengan dunia anak usia dini. Abata diterbitkan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri, terbit dua kali setahun pada Maret dan September, dengan DOI 10.32665/abata, E-ISSN 2807-9809, dan P-ISSN 2808-2338.

Bagi sebagian orang, jurnal mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal jika dibaca lebih dekat, isi jurnal justru sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di Abata, masyarakat bisa menemukan kajian tentang smart parenting di era digital, penanaman nilai agama dan moral anak, minat baca anak, media interaktif untuk berpikir logis, hingga berbagai tema perkembangan anak yang sangat relevan dengan kehidupan keluarga, guru, dan lembaga PAUD.

Artinya, jurnal bukan sekadar produk akademik untuk dosen dan mahasiswa. Ia juga bisa menjadi alternatif solusi bagi problem yang sedang dihadapi masyarakat. Ketika orang tua bingung menghadapi anak di era gawai, ketika guru mencari strategi pembelajaran yang lebih tepat, atau ketika lembaga PAUD membutuhkan penguatan praktik pendidikan, maka artikel-artikel ilmiah semacam ini dapat menjadi rujukan yang lebih bertanggung jawab.

Namun membangun jurnal yang hidup tentu bukan perkara mudah. Tantangan pertama adalah menjaga mutu artikel. Jurnal tidak cukup hanya rutin terbit, tetapi harus mampu menghadirkan naskah yang kuat secara metodologi, jelas secara analisis, dan relevan secara tema. Tantangan berikutnya adalah memperluas keterbacaan publik. Banyak hasil penelitian sebenarnya penting, tetapi belum tentu akrab di mata masyarakat karena bahasa jurnal kerap dianggap terlalu akademik. Tantangan lain adalah soal daya saing dan tata kelola, sebab sebuah jurnal harus terus tumbuh, memperkuat tim editorial, membangun reputasi, dan menjaga konsistensi pengelolaan.

Di balik kerja sunyi itu, ada sosok yang memegang peran penting, yakni Endang Puspitasari sebagai Editor-in-Chief Jurnal Abata. Namanya tercantum secara resmi pada laman editorial tim jurnal, bersama tim pengelola lainnya dari UNUGIRI maupun mitra akademik lain. Kehadiran Endang Puspitasari sebagai pemimpin redaksi menunjukkan bahwa Abata dikelola secara serius dengan arah pengembangan yang jelas.

Jejak akademiknya juga dapat dibaca lebih dekat melalui publikasi dan kiprah kepenulisannya. Salah satu artikelnya yang tercatat di laman Abata adalah tentang tata kelola pojok baca sebagai upaya meningkatkan minat baca anak usia 5–6 tahun, yang memperlihatkan kedekatannya dengan isu-isu pengembangan pembelajaran anak usia dini. Di luar itu, profil akademiknya juga dapat ditelusuri melalui Curriculum Vitae pada akun Pintar LPPM UNUGIRI dan akun Google Scholar miliknya. prestasinya juga membawa Abata menjadi Jurnal yang bereputasi Nasional Sinta peringkat 5.

Harapan terhadap Jurnal Abata tentu tidak kecil. Di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, jurnal ini diharapkan bukan hanya menjadi ruang publikasi dosen dan peneliti, tetapi juga menjadi jembatan pengetahuan antara kampus dan masyarakat. Dengan begitu, hasil penelitian tidak berhenti sebagai arsip akademik, tetapi benar-benar hadir sebagai bagian dari jawaban atas persoalan riil di lapangan.

Bagi PIAUD UNUGIRI, Abata adalah bukti bahwa program studi tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga memproduksi ilmu. Dan bagi masyarakat, Abata adalah pesan bahwa dunia akademik sesungguhnya terus bekerja menghadirkan pengetahuan yang dapat dibaca, dirujuk, dan dimanfaatkan.

Di saat banyak orang mencari jawaban instan, jurnal ilmiah justru menawarkan sesuatu yang lebih kuat: jawaban yang diteliti, dipikirkan, dan dipertanggungjawabkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *