
Oleh: Ahmad Farid Utsman (Kaprodi PIAUD Fakultas Tarbiyah UNUGIRI)
Belakangan ini, dunia kampus digelisahkan oleh satu wacana yang terasa dingin sekaligus menegangkan: penataan program studi, dengan kemungkinan penutupan sebagai opsi terakhir. Wacana itu cepat menyebar, lalu menimbulkan kecemasan, terutama di rumpun ilmu sosial, humaniora, dan kependidikan. Kemdiktisaintek sendiri sudah memberi klarifikasi bahwa penutupan prodi bukan pilihan utama, melainkan opsi terakhir setelah evaluasi menyeluruh, dan kementerian juga menegaskan bahwa bidang pendidikan tetap punya posisi penting dalam arsitektur talenta nasional.
Tetapi kegelisahan publik tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari rasa curiga yang sangat manusiawi: jangan-jangan perguruan tinggi ke depan akan semakin didorong untuk hanya melayani pasar kerja, bukan membangun manusia.
Di titik inilah kita perlu bicara jernih. Khususnya dari kaca mata Pendidikan Islam Anak Usia Dini, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah prodi masih “relevan” atau tidak. Persoalannya jauh lebih besar: apakah negara, kampus, dan masyarakat masih percaya bahwa pendidikan tinggi adalah jalan memuliakan manusia, bukan sekadar jalur distribusi tenaga kerja.
PIAUD berdiri di atas kegelisahan yang paling dasar dalam peradaban: bagaimana manusia dibentuk sejak awal hidupnya. Itu sebabnya, kalau ada yang membaca prodi keguruan hanya dengan kacamata serapan kerja jangka pendek, maka yang sedang dipersempit bukan hanya prodi, tetapi juga makna pendidikan itu sendiri.
Sebab anak usia dini tidak sedang disiapkan untuk besok pagi masuk pabrik. Mereka sedang disiapkan menjadi manusia.
Dan untuk menyiapkan manusia, kita tidak cukup hanya membutuhkan keterampilan teknis. Kita membutuhkan ilmu tentang tumbuh kembang, psikologi anak, pedagogi, nilai, akhlak, keluarga, budaya, bahasa, dan spiritualitas. Kita membutuhkan orang-orang yang paham bahwa masa kanak-kanak bukan masa tunggu, melainkan masa pembentukan. Kita membutuhkan guru dan sarjana yang tidak sekadar bisa “mengajar”, tetapi mampu membaca jiwa anak, menuntun karakter, dan merawat fitrah.
Dalam konteks itulah ilmu keprodian PIAUD menjadi urgen. Ia bukan sekadar jurusan untuk mencetak “calon guru TK.” Itu pembacaan yang terlalu sempit. PIAUD adalah ruang pembentukan SDM strategis yang memahami fondasi peradaban sejak usia paling dini. Lulusannya bisa menjadi pendidik, pengelola lembaga, peneliti, pendamping keluarga, pengembang program parenting, penggerak komunitas, hingga aktor perubahan sosial berbasis anak dan keluarga. Itu semua justru sangat relevan dengan kebutuhan bangsa yang sedang menghadapi krisis pengasuhan, problem gawai pada anak, lemahnya literasi keluarga, dan kecemasan sosial yang makin dini dirasakan anak-anak.
Jadi, ketika orang bertanya, “Apa gunanya prodi seperti PIAUD di masa depan?” pertanyaan baliknya semestinya lebih tajam: “Bangsa seperti apa yang akan lahir jika fondasi anak usia dininya diabaikan?”
Kita terlalu sering terjebak pada logika ekonomi yang pendek. Seolah-olah yang penting dari lulusan adalah seberapa cepat ia terserap dunia kerja. Tentu, bekerja itu penting. Kemandirian ekonomi itu perlu. Tetapi jika seluruh orientasi pendidikan tinggi direduksi menjadi penyiapan buruh, maka kampus pelan-pelan akan kehilangan jiwanya. Kemdiktisaintek sendiri sudah menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh dipandang sempit sebagai penyedia tenaga kerja belaka, melainkan juga sebagai pusat pengembangan ilmu, inovasi, kebudayaan, kepemimpinan, dan solusi bagi masyarakat.Kalimat itu penting. Sangat penting. Karena di situlah letak perbedaan antara kampus yang mendidik manusia dan lembaga yang hanya menyalurkan pekerja.
PIAUD, dalam pemahaman saya, berada tepat di jantung perdebatan itu. Ia adalah prodi yang paling mudah diremehkan oleh cara pandang teknokratis, tetapi justru paling penting bila kita masih percaya bahwa manusia tidak hanya hidup untuk dunia, melainkan juga untuk makna yang lebih dalam. Dalam tradisi pendidikan Islam, manusia tidak dibentuk hanya agar produktif, tetapi agar kaffah: utuh akalnya, lurus akhlaknya, sehat relasinya, matang spiritualnya, dan bertanggung jawab sosialnya.
Apa arti sukses bila anak tumbuh cerdas tetapi rapuh jiwanya? Apa arti kemajuan bila generasi muda lihai teknologi tetapi miskin empati? Apa arti pembangunan bila rumah-rumah kita penuh anak yang pandai bicara tetapi kehilangan arah batin?
Di sinilah PIAUD bekerja, bahkan ketika kerjanya tidak selalu terlihat mewah. Ia bekerja di akar. Ia menyiapkan generasi sebelum dunia sempat merusaknya terlalu jauh. Ia mendidik calon pendidik agar paham bahwa anak bukan objek kurikulum, melainkan amanah kehidupan. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga penanaman adab, kasih sayang, kesabaran, dan tanggung jawab.
Karena itu, kalau ada wacana penataan prodi, maka prodi seperti PIAUD justru tidak cukup hanya dipertahankan. Ia harus diperkuat, ditransformasikan, dimodernisasi, dan diposisikan sebagai bidang strategis. Bukan karena nostalgia pada ilmu keguruan, tetapi karena masa depan bangsa sungguh bergantung pada kualitas manusia yang dibentuk sejak dini.
Saya tidak sedang mengatakan semua prodi harus kebal evaluasi. Tidak. Evaluasi itu sehat. Mutu harus dijaga. Tata kelola harus diperbaiki. Kurikulum harus relevan. Dosen harus terus bertumbuh. Lembaga harus adaptif. Tetapi ukuran relevansi tidak boleh jatuh pada pragmatisme sempit. Sebab ada bidang-bidang ilmu yang nilai strategisnya tidak selalu bisa dibaca oleh logika pasar jangka pendek. Pendidikan, termasuk PIAUD, adalah salah satunya. Dan kementerian sendiri sudah menegaskan bahwa evaluasi prodi tidak semata melihat peminatan atau serapan kerja, tetapi juga kualitas pembelajaran, kapasitas dosen, keberlanjutan akademik, kontribusi keilmuan, kebutuhan strategis nasional, dan pemerataan pembangunan daerah.
Maka yang kita butuhkan bukan rasa panik, melainkan keberanian untuk merumuskan ulang nilai sebuah prodi. PIAUD harus menjawab zaman, iya. Tetapi menjawab zaman tidak berarti menyerah pada pasar. Menjawab zaman berarti menunjukkan bahwa ilmu keprodian PIAUD mampu melahirkan SDM unggul yang bukan hanya siap bekerja, melainkan juga siap mengabdi, memimpin, mendidik, membangun keluarga, dan menata masyarakat.
Itulah manusia kaffah yang seharusnya lahir dari perguruan tinggi Islam: bukan manusia yang hanya laku di pasar, tetapi manusia yang bernilai di hadapan kehidupan. Bukan manusia yang sekadar mencari gaji, tetapi manusia yang tahu untuk apa ilmunya dipakai. Bukan manusia yang hanya sukses dunia, tetapi juga sadar jalan pulang akhiratnya.
Dan bila kampus masih percaya pada cita-cita sebesar itu, maka PIAUD tidak akan pernah menjadi prodi pinggiran. Ia justru salah satu benteng terakhir peradaban.
