Oleh Siti Labiba Kusna (Penulis Buku Perkembangan Fismo AUD)

Ada satu kekeliruan yang sering dibiarkan tumbuh diam-diam di ruang pendidikan anak usia dini: anak yang tenang dianggap lebih baik dari pada anak yang aktif. Anak yang duduk manis dinilai lebih siap belajar dibanding anak yang berlari, memanjat, melompat, meronce, atau menggenggam benda dengan penuh rasa ingin tahu.
Padahal, bagi anak usia dini, bergerak bukan gangguan. Bergerak adalah bahasa tumbuh kembangnya.
Di titik ini, buku Perkembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini yang saya tulis bersama penulis yang lain ini memberi alarm yang layak didengar serius. Buku ini menegaskan bahwa perkembangan fisik-motorik merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak, membutuhkan stimulasi yang beragam sesuai karakteristik anak, dan tidak bisa dilepaskan dari peran guru, orang tua, serta lingkungan belajar yang mendukung. Buku itu juga menempatkan pengembangan fisik-motorik bukan sebagai pelengkap, melainkan fondasi bagi perkembangan lanjutan anak.
Masalahnya, dalam praktik pendidikan kita, aspek fisik-motorik sering diperlakukan seperti anak tiri. Ia dipuji dalam dokumen, tetapi dikurangi dalam kenyataan. Banyak lembaga PAUD masih lebih bangga pada anak yang cepat menulis daripada anak yang mampu meniti, melempar, menyeimbangkan tubuh, mengancing baju sendiri, atau memegang alat tulis dengan koordinasi yang baik. Kita terlalu cepat terpikat pada hasil akademik yang tampak, lalu lupa bahwa tubuh anak juga sedang belajar berpikir.
Padahal, tubuh bukan sekadar pembungkus kepala. Pada anak usia dini, tubuh adalah pintu pertama untuk mengenal dunia.
Buku ini penting justru karena mengingatkan hal yang sering kita anggap sepele: perkembangan fisik-motorik setiap anak tidak seragam, dipengaruhi banyak faktor, dan membutuhkan stimulasi yang tepat, menyenangkan, dan sesuai tahap perkembangan. Ini berarti guru PAUD tidak cukup hanya “mengajar”, tetapi harus mampu membaca kesiapan tubuh anak, kebutuhan geraknya, dan ruang stimulasi yang ia perlukan.
Di sinilah kritik harus diarahkan. Banyak ruang belajar anak usia dini masih didesain dengan logika sekolah orang dewasa: rapi, tertib, diam, seragam. Anak diminta duduk terlalu lama. Gerak dibatasi. Bermain dianggap jeda, bukan inti belajar. Kelas menjadi tempat mengontrol tubuh, bukan mengembangkan kemampuan tubuh.
Kita lupa bahwa motorik kasar dan motorik halus bukan dua istilah teknis untuk laporan penilaian semata. Keduanya adalah tanda bahwa anak sedang membangun kemandirian, keberanian, koordinasi, rasa percaya diri, bahkan kesiapan belajar akademik. Jurnal dan rujukan yang membahas tema serupa juga menegaskan bahwa perkembangan fisik-motorik adalah dasar penting bagi keterampilan sehari-hari dan pembelajaran, serta perlu didukung oleh stimulasi dan lingkungan belajar yang kondusif.
Karena itu, ketika anak sulit memegang pensil dengan benar, belum seimbang saat berjalan di garis, kurang terampil menggunakan jari, atau cepat lelah saat aktivitas gerak, yang dibutuhkan bukan label “kurang fokus” atau “kurang siap sekolah.” Yang dibutuhkan adalah refleksi: jangan-jangan selama ini kita miskin stimulasi, miskin ruang gerak, dan terlalu kaya tuntutan.
Dari kaca mata PIAUD, persoalan ini tidak boleh dibaca sebatas teknis pembelajaran. Ini soal paradigma. Apakah kita sungguh memahami anak sebagai makhluk yang belajar lewat gerak, rasa, imitasi, dan pengalaman konkret? Atau jangan-jangan kita sedang memaksa anak menjadi miniatur siswa dewasa terlalu cepat?
Buku tersebut, jika dibaca secara kritis, sebenarnya mengajak kita keluar dari jebakan itu. Ia tidak hanya bicara konsep, tetapi juga menegaskan pentingnya ragam media, permainan yang menyenangkan, dan kolaborasi antara pendidik dan orang tua dalam menstimulasi perkembangan motorik anak. Ini pesan yang sangat kuat: perkembangan fisik-motorik tidak bisa dibebankan pada sekolah saja, apalagi pada guru kelas saja. Ia adalah kerja ekosistem.
Namun, di lapangan, kolaborasi itu sering hanya bagus dalam slogan. Guru meminta dukungan orang tua, tetapi komunikasi stimulasi di rumah tidak jelas. Orang tua ingin anak berkembang optimal, tetapi rumah justru dipenuhi larangan bergerak: jangan lari, jangan naik, jangan kotor, jangan lompat, jangan berantakan. Anak akhirnya tumbuh dalam pagar instruksi, bukan dalam ruang eksplorasi.
Akibatnya jelas: kita memproduksi anak-anak yang tampak tertib, tetapi rapuh dalam koordinasi, kurang percaya diri dalam eksplorasi, dan cepat frustrasi ketika tubuhnya diminta bekerja.
Karena itu, kajian atas buku ini semestinya tidak berhenti sebagai apresiasi akademik. Ia perlu dibaca sebagai kritik halus terhadap praktik PAUD yang terlalu cepat menggeser bermain menjadi drilling, terlalu cepat menggeser gerak menjadi duduk, dan terlalu cepat menggeser tumbuh kembang menjadi target-target administratif.
PIAUD, sebagai bidang ilmu dan sekaligus medan pengabdian, punya tanggung jawab moral untuk melawan kecenderungan itu. Mahasiswa PIAUD harus dibentuk bukan hanya menjadi pengajar yang sabar, tetapi juga pendidik yang paham bahwa setiap lompatan, coretan, genggaman, ayunan tangan, pijakan kaki, dan percobaan sederhana anak adalah bagian dari kerja besar pertumbuhan.
Kita juga perlu berani mengatakan: ruang PAUD yang baik bukan yang paling sunyi, tetapi yang paling hidup. Bukan yang paling steril dari gerak, tetapi yang paling kaya stimulasi. Bukan yang paling cepat membuat anak menyalin huruf, tetapi yang paling peka membaca kesiapan tubuh dan tahap perkembangannya.
Dari sinilah masa depan pendidikan anak usia dini seharusnya dibenahi. Anak tidak boleh dinilai hanya dari seberapa cepat ia bisa membaca simbol, tetapi juga dari seberapa sehat, tangguh, lentur, terkoordinasi, dan percaya dirinya ia tumbuh dalam tubuhnya sendiri.
Sebab sebelum anak belajar menulis masa depannya, ia lebih dulu belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Dan jika kita gagal memahami itu, maka yang salah bukan anak-anak kita.
Yang salah adalah cara kita memandang mereka.
