
Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H kembali menghadirkan kebahagiaan yang khas bagi anak-anak. Salah satu tradisi yang kerap dinanti adalah pemberian angpao atau uang saku Lebaran. Bagi anak usia dini, angpao bukan sekadar hadiah, melainkan simbol perhatian, kasih sayang, dan kebersamaan dalam keluarga. Namun di balik euforia tersebut, penting bagi kita—khususnya sebagai pendidik dan orang tua—untuk memberikan catatan kritis yang tetap berlandaskan nilai-nilai humanis.
Fenomena “angpao culture” dalam Lebaran saat ini mengalami pergeseran makna. Tidak sedikit anak yang mulai memandang angpao sebagai tujuan utama silaturrahmi, bahkan muncul kecenderungan membandingkan jumlah yang diterima. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini berpotensi menumbuhkan sikap materialistis sejak dini. Padahal, esensi Idulfitri sejatinya adalah kembali kepada fitrah: kesucian hati, keikhlasan, dan penguatan hubungan antar sesama.
Dalam perspektif Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), momen ini justru dapat menjadi sarana edukatif yang sangat berharga. Angpao dapat dijadikan media untuk mengenalkan konsep sederhana tentang berbagi, bersyukur, dan mengelola rezeki. Anak-anak dapat diajak memahami bahwa uang yang diterima bukan hanya untuk dihabiskan, tetapi juga bisa ditabung atau bahkan dibagikan kembali kepada yang membutuhkan, sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Pendekatan humanis menjadi kunci dalam mendampingi anak menghadapi budaya ini. Alih-alih melarang atau membatasi secara kaku, orang tua dan pendidik dapat mengarahkan dengan komunikasi yang hangat dan penuh empati. Misalnya, dengan menjelaskan makna silaturrahmi, pentingnya mengucapkan terima kasih, serta menanamkan nilai bahwa kebahagiaan Lebaran tidak diukur dari banyaknya angpao, melainkan dari kebersamaan yang terjalin.
Lebih jauh, budaya angpao juga bisa menjadi pintu masuk untuk menanamkan literasi finansial sejak dini. Anak dikenalkan secara sederhana tentang fungsi uang, prioritas kebutuhan, dan pentingnya berbagi. Dengan demikian, angpao tidak berhenti sebagai tradisi konsumtif, tetapi berkembang menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Sebagai bagian dari keluarga besar Prodi PIAUD UNUGIRI, kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal tumbuh kembang anak secara utuh—tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Momentum Idulfitri ini menjadi refleksi bersama bahwa setiap tradisi, termasuk angpao, perlu dimaknai secara bijak dan kontekstual.
Akhirnya, mari kita jadikan Lebaran 1447 H sebagai ruang untuk memperkuat nilai kemanusiaan dalam diri anak-anak. Mengajarkan bahwa memberi lebih indah daripada menerima, bahwa kebersamaan lebih bermakna daripada materi, dan bahwa silaturrahmi adalah warisan nilai yang harus dijaga sepanjang hayat.
Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H.
Semoga setiap langkah kita dalam mendidik anak senantiasa dilandasi cinta, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
