Dari Rindu Menjadi Karya: “Warisan Nusantara” dan Cinta pada Tanah Kelahiran

Oleh: M. Tsaqibul Fikri

Ada satu pengalaman yang sering dialami seseorang ketika berada jauh dari tanah kelahirannya: rasa rindu yang tiba-tiba muncul tanpa disadari. Kerinduan itu tidak selalu datang dalam bentuk ingatan yang jelas, tetapi bisa hadir melalui perasaan yang sulit dijelaskan. Hal inilah yang saya rasakan ketika mendapat kesempatan mendampingi mahasiswa dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Malaysia dan Thailand. Jauh dari Bojonegoro, justru membuat saya semakin menyadari betapa dalam makna “rumah” bagi seseorang.

Di negeri orang, ingatan tentang kampung halaman muncul dengan cara yang berbeda. Ia hadir dalam bayangan tentang alam yang akrab, tentang tradisi yang membentuk kehidupan masyarakat, dan tentang kehangatan relasi sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari pengalaman itulah kemudian lahir sebuah karya lagu yang saya beri judul “Warisan Nusantara”. Lagu ini menjadi cara sederhana untuk mengekspresikan kerinduan terhadap Bojonegoro—tanah kelahiran yang selalu memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup saya.

Judul Warisan Nusantara dipilih untuk menggambarkan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Bojonegoro sebagai bagian dari identitas daerah yang layak dibanggakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Bojonegoro semakin dikenal melalui potensi kawasan Geopark yang menyimpan kekayaan geologi, ekologi, dan budaya. Bagi saya, potensi ini bukan hanya tentang wisata atau bentang alam, tetapi juga tentang cerita panjang yang membentuk karakter masyarakatnya.

Melalui karya musik ini, saya ingin menghadirkan Bojonegoro bukan sekadar sebagai nama sebuah daerah, tetapi sebagai warisan yang hidup dalam ingatan dan kebanggaan masyarakatnya. Musik menjadi medium yang memungkinkan pesan tersebut disampaikan dengan cara yang lebih emosional dan mudah diterima oleh banyak orang.

Proses kreatif lagu ini dimulai dari tahap pencarian inspirasi, kemudian dilanjutkan dengan penulisan lirik, penyusunan melodi, hingga pengolahan harmoni yang sesuai dengan nuansa yang ingin dihadirkan. Dalam proses tersebut, diskusi dengan rekan-rekan sesama musisi dan sahabat yang memiliki perhatian pada bahasa dan budaya menjadi bagian penting untuk memperkaya perspektif karya ini.

Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan seni—alumni S-1 Sendratasik Universitas Negeri Surabaya dan S-2 Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta—saya memandang seni bukan hanya sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai ruang refleksi sosial dan budaya. Sebuah karya seni selalu lahir dari pengalaman, perasaan, dan interaksi manusia dengan lingkungannya.

Proyek “Warisan Nusantara” diawali dengan pembuatan demo sederhana, kemudian dilanjutkan dengan proses rekaman hingga produksi Official Lyric Video. Meski tergolong sebagai proyek kreatif yang sederhana, proses ini melibatkan banyak pihak yang memberikan dukungan, mulai dari tim audio, tim visual, hingga rekan-rekan yang membantu dalam proses distribusi dan promosi karya ini.

Saat ini lagu “Warisan Nusantara” telah dirilis melalui berbagai platform media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok, serta sedang dalam proses distribusi melalui sejumlah platform musik digital seperti Spotify dan YouTube Music. Harapannya, karya ini dapat menjangkau lebih banyak pendengar sekaligus menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan keindahan Bojonegoro kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi saya, Bojonegoro selalu memiliki arti yang sangat personal. Ia bukan hanya tempat lahir, tetapi juga ruang kenangan yang membentuk perjalanan hidup seseorang. Di sanalah nilai-nilai kebersamaan, budaya lokal, dan kehidupan masyarakat membentuk identitas kita.

Dalam konteks pendidikan, pengalaman ini juga mengingatkan kita bahwa kearifan lokal dan budaya daerah memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda. Anak-anak perlu dikenalkan pada kekayaan budaya dan lingkungan tempat mereka tumbuh, agar mereka memiliki rasa memiliki terhadap tanah kelahirannya.

Karena itu, melalui karya ini saya berharap “Warisan Nusantara” tidak hanya menjadi lagu yang dinikmati secara musikal, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya merawat identitas budaya dan kecintaan terhadap daerah asal.

Ke depan, rencana untuk memperkenalkan karya ini kepada masyarakat akan terus dilakukan, termasuk melalui kegiatan live concert atau road show di beberapa titik setelah Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi alam dan budaya Bojonegoro secara lebih luas.

Pada akhirnya, sebuah karya sering kali lahir dari hal yang sederhana: pengalaman, perjalanan, dan kerinduan. Dari kerinduan itulah “Warisan Nusantara” hadir sebagai bentuk penghormatan kecil bagi tanah kelahiran yang selalu memberikan inspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *