
Oleh Endang Puspitasari, M.Pd
Liburan Natal dan Tahun Baru (NATARU) kerap dipahami sebagai masa rehat dari aktivitas sekolah. Namun, dalam perspektif Pendidikan Islam Anak Usia Dini, liburan justru merupakan fase strategis pendidikan keluarga (tarbiyah al-usrah). Pada masa inilah peran orang tua sebagai pendidik utama (al-murabbi al-awwal) menemukan momentumnya, karena anak lebih banyak berada dalam lingkungan rumah.
Sebagai dosen Pendidikan Anak Usia Dini yang memiliki keahlian pada media pembelajaran dan kurikulum PAUD, Endang Puspitasari memandang bahwa pendidikan anak usia dini tidak boleh terlepas dari nilai tauhid, akhlak, dan pembiasaan ibadah. Liburan tidak berarti menghentikan proses pendidikan, tetapi mengalihkannya ke pendidikan berbasis keteladanan dan pengalaman nyata.
Tips pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah mengintegrasikan aktivitas keseharian dengan nilai-nilai keislaman. Kegiatan sederhana seperti bangun pagi, makan bersama, membersihkan rumah, atau bepergian bersama keluarga dapat menjadi sarana menanamkan adab, doa-doa harian, serta nilai tanggung jawab. Anak belajar bahwa Islam hadir dalam setiap aktivitas hidup, bukan hanya saat beribadah formal.
Kedua, orang tua perlu memanfaatkan media pembelajaran Islami di rumah. Buku cerita nabi, kisah teladan sahabat, lagu-lagu edukatif bernuansa Islami, hingga media visual sederhana dapat menjadi sarana stimulasi kognitif dan spiritual anak. Dalam pandangan Endang Puspitasari, media pembelajaran PAUD yang baik bukanlah yang paling mahal atau canggih, melainkan yang mendekatkan anak pada nilai kebaikan dan makna.
Penggunaan gawai selama liburan juga perlu disikapi secara bijak. Dalam Pendidikan Islam, pendampingan orang tua adalah bentuk tanggung jawab moral. Orang tua sebaiknya tidak sekadar membatasi, tetapi menemani, berdialog, dan mengarahkan agar anak terbiasa menggunakan teknologi secara beradab dan proporsional. Inilah praktik awal literasi digital yang berlandaskan akhlak.
Tips berikutnya adalah menjaga keteraturan ritme ibadah dan kehidupan anak. Liburan sering membuat waktu tidur, makan, dan ibadah menjadi longgar. Padahal, pembiasaan shalat tepat waktu, membaca doa, dan mengucap syukur merupakan fondasi pembentukan karakter Islami. Anak usia dini membutuhkan konsistensi agar merasa aman secara emosional dan spiritual.
Dari sudut pandang kurikulum PAUD berbasis Islam, liburan NATARU juga merupakan ruang penting untuk menanamkan nilai moderasi, toleransi, dan rahmatan lil ‘alamin. Orang tua dapat mengenalkan anak pada keberagaman dengan bahasa yang sederhana dan penuh empati, tanpa kehilangan identitas keislamannya. Ini menjadi bekal awal anak untuk hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat majemuk.
Pada akhirnya, liburan NATARU bukanlah soal sejauh apa anak diajak bepergian, melainkan seberapa dalam nilai yang ditanamkan. Ketika orang tua hadir sebagai teladan, sahabat, dan pendidik yang penuh kasih, maka rumah akan menjadi madrasah pertama yang menenangkan. Inilah esensi Pendidikan Islam Anak Usia Dini: membentuk generasi beriman, berakhlak mulia, dan tumbuh secara utuh sejak dini—dimulai dari keluarga.
