
Oleh: Ahmad Farid Utsman (Kaprodi PIAUD Fakultas Tarbiyah UNUGIRI)
Indonesia adalah negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Gempa bumi, banjir, kebakaran, hingga cuaca ekstrem merupakan risiko yang hadir hampir setiap waktu. Dalam konteks pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), isu mitigasi bencana tidak boleh dianggap sebagai wacana sekunder. Anak-anak pada usia dini merupakan kelompok paling rentan sekaligus paling mudah dibentuk melalui pembiasaan dan edukasi yang tepat. Oleh karena itu, integrasi pendidikan mitigasi bencana dalam kurikulum PAUD menjadi kebutuhan mendesak, bukan semata tambahan.
Dari perspektif Pendidikan Islam, upaya mitigasi bencana dapat dimaknai sebagai bagian dari hifz al-nafs (menjaga jiwa), salah satu tujuan utama dalam maqashid syariah. Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga keselamatan diri, mempersiapkan bekal, dan bertindak preventif terhadap bahaya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak memasuki wilayah yang berpotensi membahayakan dan selalu berhati-hati menghadapi fenomena alam. Prinsip kehati-hatian ini nyaris identik dengan filosofi mitigasi bencana modern: membangun kesiapsiagaan, memahami risiko, serta menyiapkan langkah penyelamatan diri.
Mengajarkan mitigasi bencana kepada anak PAUD dalam kacamata Islam tidak hanya berorientasi teknis, tetapi juga spiritual. Anak dapat diajarkan untuk mengenal tanda-tanda kebesaran Allah pada fenomena alam sambil ditanamkan nilai tawakal, disiplin, dan ketenangan dalam menghadapi situasi sulit. Pendidikan Islam tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi menyentuh pembentukan karakter resilien, sabar, dan mampu mengambil keputusan cepat saat dibutuhkan. Nilai-nilai inilah yang relevan untuk membangun kesiapsiagaan bencana sejak dini.
Pendekatan integrasi–interkoneksi membantu kita melihat bahwa pembelajaran mitigasi bencana tidak berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dengan berbagai disiplin ilmu seperti geografi, psikologi perkembangan, kesehatan lingkungan, teknologi kebencanaan, dan pedagogik PAUD. Melalui pendekatan ini, guru dapat memadukan nilai keislaman dengan pengetahuan ilmiah. Misalnya, mengaitkan pelajaran tentang gunung, laut, dan cuaca dengan konsep ciptaan Allah sambil mengenalkan risiko bencana. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mempelajari fenomena alam, tetapi juga memahami etika menjaga lingkungan.
Pada level praktis, edukasi mitigasi bencana di PAUD harus dilakukan melalui metode yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak, seperti bermain peran, simulasi sederhana, cerita bergambar, hingga lagu atau gerakan evakuasi. Dalam integrasi–interkoneksi, simulasi evakuasi bukan hanya latihan teknis, tetapi juga sarana pembiasaan nilai disiplin, tanggung jawab, kekompakan, dan keberanian. Anak belajar bahwa menjaga diri adalah bagian dari menjaga amanah Allah terhadap tubuh dan kehidupan mereka.
Guru PAUD memiliki peran strategis sebagai fasilitator edukasi mitigasi bencana. Namun, guru tidak cukup hanya memahami aspek pedagogis. Mereka perlu mendapatkan pelatihan terkait dasar-dasar kebencanaan, pertolongan pertama, dan cara mengelola situasi darurat. Di sinilah pentingnya interkoneksi antara lembaga PAUD dengan BNPB, Dinas Sosial, lembaga kesehatan, hingga organisasi keagamaan seperti NU yang memiliki pengalaman dalam respon bencana. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari integrasi ilmu dan praktik sosial.
Lingkungan keluarga juga memegang peran penting. Pendidikan Islam sejak dulu menekankan konsep baytī jannatī (rumahku surgaku), namun rumah juga harus menjadi ruang kesiapsiagaan. Orang tua perlu diajak memahami bahwa pembiasaan mitigasi bencana tidak membuat anak takut, tetapi membangun ketangguhan mental. Ketika pesan dari sekolah terhubung dengan pengalaman di rumah, maka tercipta ekosistem edukatif yang simultan. Prinsip integrasi–interkoneksi mendorong keterhubungan antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan ilmu pengetahuan.
Urgensi mitigasi bencana dalam PAUD juga berkaitan dengan pembangunan karakter nasional. Generasi yang siap menghadapi bencana adalah generasi yang disiplin, terlatih, dan mampu berpikir cepat—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat modern. Pendidikan Islam mengajarkan pentingnya ihtiyāth (kewaspadaan) dan tadabbur (perenungan mendalam). Kedua konsep ini dapat diterjemahkan ke dalam strategi mitigasi bencana yang rasional, terukur, dan berlandaskan nilai spiritual.
Dengan demikian, pendidikan mitigasi bencana pada anak usia dini memiliki urgensi tidak hanya dari aspek keselamatan, tetapi juga penguatan karakter, spiritualitas, dan literasi sains. Melalui pendekatan integrasi–interkoneksi, guru PAUD dapat menghadirkan pembelajaran yang harmonis antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai Islam. Kesiapsiagaan bencana bukan semata kewajiban teknis, tetapi bagian dari ibadah menjaga kehidupan. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi lembaga PAUD untuk melahirkan generasi tangguh yang siap menghadapi masa depan dengan iman, ilmu, dan kesiapan mental yang kuat.
