Site icon Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Ketika PAUD Terlalu Sibuk Mengasah Otak, Siapa Menjaga Hati Anak?

Oleh: Dr. Ulfa, M.Pd.I dan Ahmad Farid Utsman, M.Pd.I (Dosen Prodi PIAUD UNUGIRI)

Di banyak ruang pendidikan anak usia dini, kita sering lebih cepat terpukau pada anak yang lancar membaca, cekatan berhitung, atau berani tampil di depan kelas. Kita sibuk mengukur kecerdasan, tetapi kerap lupa menata kejernihan hati.

Padahal, anak usia dini tidak hanya butuh pintar. Mereka juga butuh akhlak.

Di titik inilah buku Implementasi Nilai Akhlak Tasawuf pada Pendidikan Anak Usia Dini terasa penting untuk dibaca. Buku karya Ulfa, Ahmad Farid Utsman, dan Roudlotun Ni’mah ini terbit pada 2024, setebal 154 halaman, dan sejak awal diposisikan sebagai buku ajar yang bermanfaat bagi dosen, mahasiswa, guru PAUD, bahkan orang tua karena membahas nilai akhlak tasawuf secara kontekstual pada pendidikan anak usia dini.

Buku ini menarik karena tidak langsung melompat ke bahasa-bahasa besar. Ia menata dasar lebih dulu: apa itu akhlak, apa bedanya dengan etika dan moral, lalu bagaimana akhlak dipahami sebagai sesuatu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Dalam penjelasannya, akhlak dipahami sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa dan melahirkan perbuatan secara mudah, sedangkan moral dan etika bergerak lebih banyak dalam ruang kebiasaan sosial dan akal manusia.

Bagi dunia PIAUD, ini penting. Sebab mendidik anak bukan sekadar melatih perilaku luar. Anak tidak cukup hanya diajari berkata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”, jika semua itu hanya berhenti pada sopan santun permukaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perilaku baik tumbuh dari pembiasaan, keteladanan, dan kejernihan batin.

Di sinilah buku ini terasa relevan. Ia menegaskan bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh pembiasaan, lingkungan, suara hati, kehendak, dan pendidikan. Artinya, anak tidak lahir otomatis menjadi baik. Ia dibentuk, dilatih, dan dituntun.

Sayangnya, praktik pendidikan kita kadang terlalu tergesa. Kita ingin anak tertib, percaya diri, mandiri, dan berprestasi, tetapi sering dengan pendekatan serba cepat. Kita ingin karakter tumbuh, tetapi malas membangun budaya. Kita ingin anak sabar, tetapi orang dewasa di sekitarnya justru mudah marah dan mudah lelah.

Akhlak tasawuf memberi kedalaman pada persoalan ini. Ia tidak hanya bicara perilaku baik, tetapi juga pembersihan hati. Buku ini berulang kali menegaskan bahwa tasawuf adalah upaya membina mental rohaniah agar manusia dekat dengan Allah dan memancarkan akhlak mulia dalam kehidupan.

Dalam konteks PAUD, pesan ini sangat praktis. Anak usia dini belajar terutama dari suasana. Mereka lebih mudah menyerap contoh daripada ceramah. Guru yang sabar lebih membekas daripada definisi sabar. Orang tua yang jujur lebih kuat daripada nasihat panjang tentang kejujuran.

Karena itu, salah satu bagian penting dari buku ini adalah pembahasan mengenai akhlak pendidik anak usia dini dalam perspektif tasawuf. Di sana ditegaskan bahwa pendidik anak usia dini perlu memiliki sifat sabar, lembut, pengasih, penyayang, sopan santun, serta mampu membimbing anak dengan baik.

Pesan ini sederhana, tetapi kuat: pendidikan anak usia dini akan kehilangan ruh jika guru hanya menjadi pengajar, bukan teladan.

Buku ini juga menyentuh prinsip golden rule, bahwa manusia perlu belajar memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Pendidikan moral, menurut buku ini, idealnya ditanamkan sejak dini dari keluarga dan sekolah, karena kerusakan perilaku sering bermula dari lemahnya pendidikan moral sejak awal.

Dari sini kita seperti diingatkan: masalah pendidikan anak hari ini bukan semata kurangnya metode, tetapi kadang kurangnya arah. Kita terlalu sibuk mengasah otak, tetapi kurang telaten menjaga hati. Kita ingin anak cerdas, tetapi tidak selalu cukup serius membentuk empati, kesabaran, kejujuran, dan rasa hormat.

Sebagai buku ajar, karya ini memang disusun akademik dan sistematis. Namun justru di situlah nilainya. Ia tidak berhenti pada wacana normatif, melainkan berusaha menghubungkan akhlak tasawuf dengan pendidikan anak usia dini secara lebih terstruktur. Bagi dosen, mahasiswa, guru, dan pemerhati PAUD, buku ini bisa menjadi salah satu rujukan penting untuk membaca pendidikan anak tidak hanya dari sisi perkembangan, tetapi juga dari sisi kejernihan jiwa.

Pada akhirnya, pendidikan anak usia dini tidak boleh hanya menghasilkan anak yang cepat, berani, dan terampil. Ia juga harus melahirkan anak yang jernih hati, lembut akhlaknya, dan sehat jiwanya.

Sebab jika PAUD hanya sibuk mengasah otak, lalu lupa menjaga hati, kita mungkin sedang menyiapkan generasi yang cerdas, tetapi mudah kehilangan arah.

Exit mobile version