Site icon Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Guru PAUD Tidak Cukup Baik, Ia Harus Bertumbuh

Oleh: Ahmad Farid Utsman (Kaprodi PIAUD Fakultas Tarbiyah UNUGIRI)

Ada kalanya dunia pendidikan terlalu sibuk membahas kurikulum, administrasi, dan target capaian, sampai lupa pada satu pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya orang yang berdiri paling dekat dengan masa depan anak?

Jawabannya bukan gedung sekolah. Bukan pula slogan kelembagaan. Jawabannya adalah guru.

Di ruang PAUD, guru bukan sekadar pengajar. Ia adalah atmosfer pertama yang dirasakan anak ketika belajar mengenal dunia di luar rumah. Dari wajah guru, anak membaca ketenangan. Dari suara guru, anak belajar rasa aman. Dari sikap guru, anak pelan-pelan memahami apa itu menghargai, mendengar, menunggu giliran, dan percaya pada dirinya sendiri.

Karena itu, berbicara tentang guru anak usia dini sesungguhnya bukan bicara profesi biasa. Ini bicara tentang fondasi peradaban yang bekerja dalam diam.

Masalahnya, kita sering terlalu murah hati dalam mendefinisikan “guru yang baik.” Seolah cukup datang tepat waktu, mengajar dengan sabar, lalu semua selesai. Padahal di era yang terus berubah, guru anak usia dini tidak cukup hanya baik. Ia harus bertumbuh. Ia harus belajar. Ia harus memimpin.

Di titik itulah pentingnya membaca ulang profesionalisme guru PAUD, bukan sebagai istilah administratif, tetapi sebagai cara berpikir. Profesionalisme bukan sekadar sertifikat, bukan sekadar jam mengajar, dan bukan sekadar kemampuan menyusun perangkat pembelajaran. Profesionalisme adalah kesadaran bahwa mendidik anak usia dini menuntut ilmu, refleksi, konsistensi, dan kemauan memperbaiki diri terus-menerus.

Sayangnya, dalam praktik pendidikan kita, guru PAUD masih sering diposisikan sebagai pekerja teknis: mengajar, mendampingi, menenangkan, merapikan, melaporkan. Banyak yang belum sungguh diberi ruang sebagai pemimpin pembelajaran. Padahal, guru PAUD setiap hari mengambil keputusan-keputusan penting: bagaimana anak dibimbing, bagaimana konflik kecil diselesaikan, bagaimana potensi anak dibaca, bagaimana kelas dibangun menjadi ruang aman dan bermakna.

Bukankah itu bentuk kepemimpinan?

Kepemimpinan di PAUD memang tidak selalu tampil dengan podium dan mikrofon. Kadang ia hadir dalam bentuk paling sunyi: guru yang peka, guru yang adil, guru yang tidak mempermalukan anak, guru yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus mendengar. Kepemimpinan juga hadir dalam keberanian guru untuk tidak terjebak rutinitas, untuk berinovasi, untuk mencari cara baru agar belajar tidak kehilangan makna.

Maka, guru PAUD yang profesional seharusnya bukan hanya piawai mengelola kelas, tetapi juga mampu mengelola arah. Ia tahu ke mana anak-anak sedang dibawa, bukan sekadar apa yang hari itu harus dikerjakan. Ia tidak hanya menyelesaikan aktivitas, tetapi menanamkan nilai. Ia tidak hanya membuat anak sibuk, tetapi membuat anak bertumbuh.

Di sinilah saya melihat pentingnya buku Profesionalisme dan Kepemimpinan Guru Anak Usia Dini. Dari sinopsis resminya, buku itu memang dirancang sebagai rujukan tentang teori profesionalisme dan leadership dalam konteks PAUD, sekaligus menghadirkan dinamika kepemimpinan dari berbagai sudut pandang keilmuan. Bahkan, buku itu secara eksplisit disebut layak menjadi rujukan untuk mata kuliah Leadership Anak Usia Dini. Itu bukan klaim kecil. Itu penanda bahwa isu ini bukan pelengkap, melainkan inti.

Kenapa inti? Karena dunia anak usia dini tidak bisa ditopang oleh guru yang berjalan dengan autopilot. Anak-anak hari ini hidup di zaman yang berbeda dari generasi sebelumnya. Informasi datang lebih cepat. Lingkungan sosial lebih kompleks. Tantangan pengasuhan lebih beragam. Maka guru yang hanya mengandalkan pengalaman lama tanpa pembaruan pengetahuan akan pelan-pelan tertinggal.

Lebih berbahaya lagi, anak yang akan menanggung dampaknya.

Kita perlu jujur mengakui bahwa sebagian masalah di pendidikan anak usia dini bukan semata kekurangan fasilitas, tetapi juga karena belum semua pendidik didorong menjadi pembelajar aktif. Banyak yang bekerja keras, tetapi belum tentu bekerja reflektif. Banyak yang setia mengajar, tetapi belum tentu bertumbuh dalam kualitas kepemimpinan dirinya.

Padahal, guru PAUD yang bertumbuh akan menciptakan kelas yang juga bertumbuh.

Guru yang membaca akan berbeda dari guru yang hanya mengulang. Guru yang reflektif akan berbeda dari guru yang sekadar rutin. Guru yang punya perspektif kepemimpinan akan berbeda dari guru yang hanya menunggu instruksi. Di tangan guru seperti itulah anak-anak bukan hanya diajak bernyanyi atau menggambar, tetapi dibantu mengenal dunia dengan lebih manusiawi.

Maka, jika hari ini kita ingin berbicara tentang peningkatan mutu PAUD, mulailah dari satu hal yang sering diabaikan: bangun martabat intelektual guru. Dorong mereka membaca, berdiskusi, menulis, meneliti, dan memperbarui cara pandangnya. Guru anak usia dini tidak boleh dibiarkan kelelahan dalam rutinitas tanpa nutrisi keilmuan.

Sebab guru yang miskin bacaan akan mudah miskin pilihan.

Dan dalam pendidikan anak usia dini, miskin pilihan itu berbahaya. Anak menjadi korban metode yang monoton. Kelas kehilangan daya hidup. Pembelajaran berubah menjadi aktivitas berulang yang aman bagi guru, tetapi belum tentu sehat bagi pertumbuhan anak.

Karena itu, kita butuh lebih banyak ruang yang mengingatkan bahwa guru PAUD adalah profesi ilmu, bukan sekadar profesi pengabdian. Pengabdian itu mulia, tetapi tanpa pengetahuan yang terus diperbarui, ia bisa berubah menjadi ketulusan yang kehabisan arah.

Di sinilah buku-buku yang lahir dari rahim keilmuan PIAUD menjadi penting. Bukan untuk dipajang di rak, tetapi untuk dipakai sebagai cermin. Untuk menguji diri: sudahkah kita menjadi guru yang benar-benar profesional? Sudahkah kita memimpin kelas, atau baru sekadar menjaganya tetap tertib?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Tetapi justru dari situlah pendidikan yang sehat dimulai.

Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan guru yang paling sempurna. Mereka membutuhkan guru yang mau terus belajar, mau terus membaik, dan mau terus bertumbuh.

Dan barangkali, dari situlah masa depan PAUD yang lebih bermutu benar-benar bisa dimulai: dari guru yang tidak puas hanya menjadi baik, tetapi berani naik kelas menjadi pemimpin pembelajaran

Exit mobile version