Site icon Pendidikan Islam Anak Usia Dini

“SELAYANG PANDANG HANGAT UNTUK KAWANKU DALAM MENYONGSONG WISUDA”

Oleh Roudlotun Ni’mah, M.Si (Dosen PIAUD sejak Tahun 2015)

Wahai kawanku  yang sebentar lagi akan menyandang gelar “alumni”, perjalanan kita sebagai mahasiswi sungguh penuh warna. Masih terasa jelas tawa riuh saat kerja kelompok, serunya praktik di kelas, hingga obrolan panjang yang tak ada habisnya di sela-sela kuliah. Ada pula kisah saat KKN—di mana sebagian dari kita harus rela meninggalkan anak dan suami demi tanggung jawab sebagai mahasiswa. Tak jarang air mata jatuh dalam rindu, tapi semua itu justru menghadirkan kekuatan baru dalam diri kita.

Siapa yang bisa melupakan perjuangan mengerjakan skripsi? Berlembar-lembar kertas revisi, bolak-balik bimbingan yang rasanya tiada akhir, bahkan rasa putus asa yang kadang menyelinap. Namun, di balik lelah itu, ada kepuasan luar biasa ketika satu demi satu halaman tersusun rapi, menandai betapa besar usaha dan ketekunan kita. Sungguh, suka maupun duka yang telah kita lalui bukanlah beban sia-sia, melainkan proses berharga yang mendewasakan. Ia membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih sabar, dan lebih siap melangkah ke fase kehidupan berikutnya.

Menjelang wisuda, momen yang sarat makna bagi setiap mahasiswa, saya ingin menyampaikan beberapa sepatah kata sebagai refleksi perjalanan kalian. Sebagai seorang dosen, saya bukan hanya pembimbing akademik, tetapi juga menjadi saksi tumbuh kembang kalian, melihat bukan sekadar nilai dan prestasi, tetapi bagaimana karakter, kreativitas, dan kemampuan sosial kalian berkembang.

Menurut John Dewey dalam perspektif ilmu pendidikan menekankan bahwa pendidikan adalah proses hidup itu sendiri, bukan sekadar persiapan untuk hidup. Artinya, setiap pengalaman belajar, setiap interaksi dengan teman dan guru, membentuk kalian menjadi individu yang utuh. Wisuda bukanlah akhir dari belajar, melainkan awal dari fase baru di mana ilmu yang telah diperoleh menjadi bekal untuk berkontribusi pada masyarakat.

Dalam Psikologi perkembangan, Erik Erikson menyebutkan fase “young adulthood” sebagai masa di mana individu membangun identitas dan hubungan sosial yang bermakna. Perjalanan kalian di bangku kuliah adalah laboratorium kehidupan: di sinilah kalian belajar bekerja sama, mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan menemukan diri sendiri. Semua itu tidak hanya meningkatkan kecerdasan kognitif, tetapi juga kecerdasan emosional, yang Daniel Goleman sebut sebagai kunci sukses dalam kehidupan profesional maupun pribadi.

Pesan luhur ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
خَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ
“Ada dua perkara yang tiada sesuatu pun melebihi keutamaannya: iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi

Pesan ini seakan menegaskan tujuan dari ilmu yang telah kalian perjuangkan. Gelar sarjana bukanlah akhir, melainkan awal untuk mengamalkan ilmu dan memberi manfaat nyata, baik di ruang kelas PAUD, di tengah masyarakat, maupun di lingkup keluarga. Ilmu yang dibarengi iman dan niat untuk bermanfaat bagi sesama akan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup kalian.

Sebagai sahabat dan pembimbing, saya berharap kalian tidak hanya mengingat gelar atau prestasi akademik, tetapi juga proses transformasi diri, nilai-nilai kebersamaan, empati, dan kemampuan refleksi diri yang kalian raih. Seperti kata Albert Einstein, “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Dengan bekal itu, saya percaya kalian mampu menghadapi tantangan dunia dengan bijaksana, penuh integritas, dan manfaat bagi sesama.

Para ulama pun mengingatkan:
لَا غُرْبَةَ لِلْفَاضِلِ وَلَا وَطَنَ لِلْجَاهِلِ
“Tidak ada pengasingan bagi orang yang mulia (berilmu), dan tidak ada tanah air bagi orang yang bodoh.”

Kalimat ini mengandung filosofi yang sangat mendalam, ilmu adalah instrumen untuk meningkatkan derajat manusia secara moral, sosial, dan intelektual. Seorang yang berilmu tidak terikat oleh batas tempat atau keadaan, karena ilmu menjadi jembatan yang mengangkat martabat, membuka wawasan, dan menempatkannya dalam posisi yang mulia di tengah masyarakat. Sebaliknya, kebodohan—yang dapat diartikan sebagai ketidakmampuan memanfaatkan pengetahuan secara bijak—bisa menjerumuskan seseorang, meskipun ia berada di tanah kelahiran sendiri, karena tanpa ilmu, seseorang mudah tersesat dan kehilangan arah.

Dalam perspektif psikologi sosial, pengetahuan membentuk identitas dan posisi sosial seseorang. Seorang yang berilmu cenderung memiliki rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, dan kapasitas untuk mempengaruhi lingkungan secara positif. Hal ini sejalan dengan prinsip self-efficacy yang dikemukakan Albert Bandura: individu yang percaya pada kemampuan diri untuk memahami dan bertindak secara efektif akan mampu menghadapi tantangan di mana pun ia berada.

Pada sisi etika dan spiritualitas, pesan ini juga menekankan tanggung jawab moral: ilmu tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi harus diamalkan, disebarkan, dan terus dikembangkan. Seorang sarjana PAUD, misalnya, bisa menerapkan ilmu pedagogik, psikologi anak, dan nilai-nilai moral untuk mendidik generasi muda dengan cara yang bermakna dan penuh kasih. Ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya yang membimbing diri sendiri dan orang lain, sementara ilmu yang hanya disimpan tanpa praktik akan kehilangan esensinya. Maka dari itu, jagalah ilmu dengan mengamalkannya, menyebarkannya, dan terus belajar, meskipun gelar sudah di tangan. Dengan begitu, derajat kita tetap mulia, manfaat ilmu terasa luas, dan kehidupan kita tetap bermakna di manapun kita berada.

Kawan-kawan, jangan pula lupakan silaturrahmi dengan para dosen kita. Sebagaimana guru, kedudukan mereka laksana orang tua kedua. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Ilmu yang kita peroleh tidak akan sempurna tanpa bimbingan orang yang menularkannya: dosen, guru, dan pembimbing. Imam Al-Ghazali menekankan dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa guru adalah perantara keberkahan ilmu; doa dan bimbingan mereka menjadi penyempurna perjalanan belajar kita. Maka, jangan sampai setelah lulus, hubungan ini terputus. Jika rumah dekat, sempatkanlah berkunjung; setidaknya ketika Lebaran atau momen penting lainnya, agar ikatan itu tetap terjaga. Silaturrahmi bukan sekadar tradisi; ia adalah kunci keberkahan ilmu. Doa guru, sebagaimana disabdakan Rasulullah ﷺ, termasuk salah satu pintu rezeki dan keberuntungan yang tak ternilai. Banyak kisah nyata, misalnya alumni yang sukses, selalu menceritakan bahwa keberhasilan mereka tidak lepas dari doa dan nasihat guru yang terus mendampingi meski secara jarak dan waktu terpisah.

Wahai kawan-kawan PIAUD UNUGIRI yang sebentar lagi akan menyandang gelar sarjana, jangan pernah merasa bahwa perjalanan ini sudah selesai. Justru inilah awal dari lembaran baru yang menunggu untuk ditulisi dengan karya, pengabdian, dan manfaat. Ingatlah, ilmu yang dibarengi doa guru dan silaturrahmi akan memberi keberkahan berlipat, baik dalam kehidupan pribadi maupun ketika berkontribusi di masyarakat, di ruang kelas PAUD, maupun dalam lingkup keluarga. Semoga Allah menjadikan langkah-langkah kalian penuh keberkahan, memudahkan setiap urusan, dan mengangkat derajat dengan ilmu yang bermanfaat. Jadilah alumni yang tidak hanya dikenal karena gelarnya, tetapi karena akhlaknya, keikhlasannya, dan manfaat yang selalu ditinggalkan di sekelilingnya. Selamat berproses menuju fase kehidupan baru. Bawalah nama baik PIAUD UNUGIRI dengan bangga, dan jangan pernah lupa: kita adalah satu keluarga, yang akan selalu terhubung dalam doa dan cinta ilmu.

Exit mobile version